Tampilkan postingan dengan label Saat Teduh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Saat Teduh. Tampilkan semua postingan

Selasa, Oktober 07, 2008

BERBUAH-BUAH BAGI TUHAN

Yoh 15:16, "Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu."
Kalau Tuhan memilih kita bukan asal pilih, tetapi dengan satu tujuan yaitu supaya kita pergi dan menghasilkan buah. Lebih daripada itu, ada tujuan lain lagi: apa yang kita minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu."

Ada 5 macam buah, yaitu:
a. Buah roh (Gal 5:22,23): berbicara tentang perbaikan dalam sikap dan karakter. Ada keseimbangan antara karunia dan karakter.

b. Buah pekerjaan yang baik (Kol 1:10): menjadi pendamai antara manusia dengan Allah
melalui Kristus dan berusaha hidup damai dengan sesama.

c. Buah untuk hidup yang kekal (Yoh 4:36): memenangkan jiwa-jiwa bagi Tuhan.
d. Buah kebenaran (2 Kor 9:10): memiliki pikiran dan perasaan Kristus untuk mengasihi orang-orang yang memerlukan pertolongan, misalnya orang-orang miskin.

e. Buah pertobatan (Mat 3:8): perubahan pola hidup setelah bertobat, tidak melakukan perbuatan manusia lama.

Tuhan merindukan agar kita berbuah (Yoh 15:1-2), dan jika kita sudah berbuah akan semakin dibersihkan, supaya semakin banyak berbuah. Rahasia untuk berbuah banyak adalah kita harus tinggal di dalam Yesus dan Yesus di dalam kita. Artinya kita harus mengasihi Tuhan. Jika kita sudah berbuah banyak, maka kita akan menyenangkan hati Allah Bapa dan kita akan disebut murid-murid Yesus.

Jika tahun 2008 (tahun Yahudi 5768) disebut Samekh Het, yaitu tahun permulaan yang baru. Bagaimana kasih Tuhan dicurahkan ke dalam hati kita. Kita semakin mengasihi Tuhan dengan segenap hati, kekuatan, akal budi dan jiwa kita. Jika kita sudah mengasihi Tuhan dengan kasih mula-mula, maka kita akan dapat berbuah-buah banyak.

Kemudian setelah tanggal 29 September 2008 ini, tahun Yahudi akan mengalami pergantian menjadi Tahun Samekh Tet. Tet (angka "9") dalam bilangan Ibrani seperti gambaran "rahim". Artinya ini berarti seperti 9 bulan masa kehamilan dan disempurnakan dengan melahirkan. Sebab itu, tahun 2009 (tahun Yahudi 5769) merupakan tahun berbuah-buah, musim panen raya, mengalami pelipatgandaan. Apa yang kita minta kepada Bapa, maka tahun 2009 ini kita akan menuai. Kita akan melahirkan ide-ide yang kreatif, mengalami perluasan dalam hal pekerjaan, pelayanan dan bisnis kita. Dan akhirnya kita akan mengalami pelipatgandaan: 2 jadi 4, 4 jadi 16 dan seterusnya.

Ciri-ciri orang yang berbuah: menyukai dan merenungkan firman Tuhan, mengucapkan dan memperkatakan kebenaran Firman Tuhan, menyaksikan tuntunan Tuhan dalam hidup kita.

Kunci untuk berbuah-buah adalah:


1. Seperti Maria kita harus duduk di kaki Tuhan Yesus (Luk 10:39 b), lebih sering masuk hadirat Tuhan, merenungkan firman Tuhan siang dan malam. Akan ada ide-ide kreatif untuk menjalani hidup dan masalah yang ada. Mari berdoa dengan sungguh-sungguh. Hadirat Tuhan itu bukan masalah tempat, tetapi bagaimana sikap hati kita saat menyembah Tuhan.



2. Maria menyentuh dan mengerti kebutuhan Yesus pada saat itu (Yoh 12:3,7). Sebab itu, kita harus peka dan tanggap dengan kehendak Tuhan pada zaman ini. Tuhan Yesus ingin datang untuk keduakalinya ke dunia ini. Apakah kita sudah siap? Dengan cara melipatgandakan Kerajaan Allah di manapun kita berada: sekolah, pekerjaan dan rumah tangga kita.



3. Saat kematian Lazarus, Maria tersungkur di depan kaki Yesus dan menangis (Yoh 11:32), Maria merendahkan diri dan menyembah Tuhan. Akibatnya Yesus menjadi menangis, masygul, terharu dan akhirnya membangkitkan Lazarus (Yoh 11:33-43). Hari-hari ini kita harus menyembah Tuhan dengan cara melakukan kehendak Tuhan, apa pun resikonya.

Karena Tuhan mengasihi kita, maka Tuhan akan mengkondisikan keadaan supaya kita lebih intim dengan Tuhan. Jika keadaan tidak enak, responi dengan semakin mencari Tuhan/intim dengan Tuhan.

Minggu, September 21, 2008


Aku Bukan Batu Pualam

Bukan tanpa rencana Bapa menciptakan aku.
dengan penuh kasih saya Ia membopong aku.

Dengan pelbagai peristiwa dipahatnya aku
Dalam kesunyian diukirnya aku
Dalam aneka derita dipeluknya aku
Dalam deraian air mata dibasuhnya aku
Di telapak tangan-Nya diukirnya aku.

Namun aku bukan batu pualam yang dingin dan kaku
Aku bukan lampu kristal yang menghiasi museum megah
atau rumah para elite dan bangsawan yang boleh dikagumi.
Namun "Jangan sentuh"

Aku hanya manusia biasa
Yah...aku adalah pengikut-Nya,
yang dibentuk menurut citra-Nya
yang dikasihi sebagai anak-Nya
yang menjadi alihwaris-Nya

Aku menyendiri tetapi aku tidak sendiri
Aku diam namun tidak kosong
aku mendengar suara Tuhan dalam lubuk hatiku
Hatiku berbicara dengan Dia
senantiasa dalam suka dan duka

Tuhan, Engkau tahu
banyak hal yang kuhadapi.
tak mungkin aku sanggup jika dengan kekuatanku sendiri.

Dalam diam dan keheningan batinku
aku menimbah kekuatan dari pada-Nya
Engkaulah Yesus enebusku
tuhan, Engkaulah Allah yang bangkit
"SANG PEMENANG"

Senin, Juni 23, 2008

JANGAN MENGABAIKAN TUHAN
Terlalu sibuk??? Justru harus berdoa…

“apakah sudah tiba bagi kamu untuk mendiami rumah-rumahmu yang dipapani dengan baik sementara Rumah ini tetap menjadi reruntuhan?” (Hagai 1:4)

Ketika kita bekerja – dalam hal apapun – kita sedang melakukan sesuatu dalam kapasitas kita yang sangat terbatas. Tetapi ketika kita berdoa, Allah sedang memakai kita untuk melakukan perkara besar yang melampaui keterbatasan itu.

Terlalu sibuk? Justru harus berdoa… adalah judul sebuah buku yang ditulis oleh Bill Hybels untuk mengingatkan orang percaya bagaimana mendisiplin diri untuk berdoa.

Ditengah kesibukan dan rutinitas yang sedang saya jalani akhir2 ini, Tuhan tiba-tiba mengingatkan saya kepada buku ini dan semakin mempertegasnya dalam Hagai 1:4. Saya kemudian sadar, bahwa kesibukan telah banyak menyita waktu saya, termasuk waktu special bersama Tuhan.

Firman Tuhan, “apakah sudah tiba bagi kamu untuk mendiami rumah-rumahmu yang dipapani dengan baik sementara Rumah ini tetap menjadi reruntuhan?” (ayat 4)

Sederhana saja, saya menangkap teguran Tuhan, dan Roh Kudus menjelaskan maksudnya dalam hati saya bahwa Tuhan sedang mengingatkan saya untuk kembali membangun Rumah-Nya yaitu diri saya yang adalah bait Allah (I Korintus 3:17) dari pada terlalu sibuk dengan pekerjaan yang – sebenarnya - tujuannya hanya untuk membentuk kepuasan dan kebanggaan diri sendiri terhadap hasil pekerjaan itu kelak.

Saya sempat berkata dalam hati “Tuhan, bukankah yang sementara saya kerjakan adalah bagian dari pelayanan pekerjaan-Mu?” Tetapi Tuhan berkata “anakku, engkau sama dengan Marta yang sangat sibuk melayani. Alangkah baiknya jika engkau seperti Maria yang lebih memilih untuk duduk dan mendengar perkataan-Ku (Lukas 10:38-42)

Kesibukan dan rutinitas yang padat dalam pelayanan adalah hal yang baik. Namun tanpa persekutuan pribadi dengan Tuhan, kita akan sama dengan "reruntuhan Bait Allah" yang tidak memiliki kekuatan sehingga tinggal menunggu waktu untuk letih dan jenuh...

Saya seperti terbius oleh kesibukan dalam pekerjaan dan menganggap itu sangat menyenangkan hati Tuhan. Tanpa disadari bahwa ternyata hal itu telah membuat saya kehilangan waktu pribadi bersama Dia.

Ternyata diri kita sebagai bait Allah tidak dapat dibangun hanya dengan rutinitas dalam pelayanan, tetapi dengan hubungan pribadi dan persekutuan bersama Tuhan.

Mari mengutamakan Tuhan lebih dari apapun dan bangunlah dirimu sebagai bait Allah yang kudus dengan banyak menyiapkan waktu pribadi bersama dengan Tuhan.

Jangan Mengabaikan Tuhan



JANGAN MENGABAIKAN TUHAN
Terlalu sibuk??? Justru harus berdoa…


“apakah sudah tiba bagi kamu untuk mendiami rumah-rumahmu yang dipapani dengan baik sementara Rumah ini tetap menjadi reruntuhan?” (Hagai 1:4)

Ketika kita bekerja – dalam hal apapun – kita sedang melakukan sesuatu dalam kapasitas kita yang sangat terbatas. Tetapi ketika kita berdoa, Allah sedang memakai kita untuk melakukan perkara besar yang melampaui keterbatasan itu.

Terlalu sibuk? Justru harus berdoa… adalah judul sebuah buku yang ditulis oleh Bill Hybels untuk mengingatkan orang percaya bagaimana mendisiplin diri untuk berdoa.

Ditengah kesibukan dan rutinitas yang sedang saya jalani akhir2 ini, Tuhan tiba-tiba mengingatkan saya kepada buku ini dan semakin mempertegasnya dalam Hagai 1:4. Saya kemudian sadar, bahwa kesibukan telah banyak menyita waktu saya, termasuk waktu special bersama Tuhan.

Firman Tuhan, “apakah sudah tiba bagi kamu untuk mendiami rumah-rumahmu yang dipapani dengan baik sementara Rumah ini tetap menjadi reruntuhan?” (ayat 4)

Sederhana saja, saya menangkap teguran Tuhan, dan Roh Kudus menjelaskan maksudnya dalam hati saya bahwa Tuhan sedang mengingatkan saya untuk kembali membangun Rumah-Nya yaitu diri saya yang adalah bait Allah (I Korintus 3:17) dari pada terlalu sibuk dengan pekerjaan yang – sebenarnya - tujuannya hanya untuk membentuk kepuasan dan kebanggaan diri sendiri terhadap hasil pekerjaan itu kelak.

Saya sempat berkata dalam hati “Tuhan, bukankah yang sementara saya kerjakan adalah bagian dari pelayanan pekerjaan-Mu?” Tetapi Tuhan berkata “anakku, engkau sama dengan Marta yang sangat sibuk melayani. Alangkah baiknya jika engkau seperti Maria yang lebih memilih untuk duduk dan mendengar perkataan-Ku (Lukas 10:38-42)

Kesibukan dan rutinitas yang padat dalam pelayanan adalah hal yang baik. Namun tanpa persekutuan pribadi dengan Tuhan, kita akan sama dengan "reruntuhan Bait Allah" yang tidak memiliki kekuatan sehingga tinggal menunggu waktu untuk letih dan jenuh...

Saya seperti terbius oleh kesibukan dalam pekerjaan dan menganggap itu sangat menyenangkan hati Tuhan. Tanpa disadari bahwa ternyata hal itu telah membuat saya kehilangan waktu pribadi bersama Dia.

Ternyata diri kita sebagai bait Allah tidak dapat dibangun hanya dengan rutinitas dalam pelayanan, tetapi dengan hubungan pribadi dan persekutuan bersama Tuhan.

Mari mengutamakan Tuhan lebih dari apapun dan bangunlah dirimu sebagai bait Allah yang kudus dengan banyak menyiapkan waktu pribadi bersama dengan Tuhan.

Mintalah, Maka Kamu Akan Diberi


Sewaktu menghadiri misa sore, konsentrasi kami terpecah. Sebabnya tak lain Dan tak bukan adalah seorang anak kecil yang merengek-rengek pada ibu Dan ayahnya meminta dibelikan mainan anak-anak yang dijual di muka gereja. Semula, di tengah suara koor Dan alunan organ, kami mengacuhkannya. Namun setelah Kitab Suci mulai dibacakan Dan situasi sedikit hening, rengekannya mulai mengganggu kami. Dalam hati saya mencela, kenapa tidak dibawa keluar Dan dituruti saja permintaannya agar IA tidak mengganggu keheningan gereja. Tapi orang tuanya rupanya bersikeras mengikuti misa Dan sekali-sekali memberi penjelasan bahwa mereka akan memberikan apa yang diingininya tetapi nanti setelah misa selesai. Hal ini rupanya membuat sang anak semakin gencar dengan rengekannya, IA pun mulai menangis.

Kemudian dibacakan Injil yang nasnya mengenai permohonan kepada Allah. \"Mintalah maka kamu akan diberi,\" begitu kira-kira. Dalam hati saya tersenyum. Itu kalau Allah mau, pikir saya, kalau tidak ya sudah Kita hanya bisa pasrah Dan menganggap mungkin permintaan Kita tidak sesuai dengan rencana Allah atau mungkin juga \"belum saatnya Dia memberi.\"

Saya termenung memikirkan alasan kedua itu. Kembali saya melihat sang anak kecil yang merengek-rengek meminta sesuatu Dan jawaban sang ibu bahwa IA akan mendapatkannya tapi nanti setelah misa selesai. Mau tak mau saya tersenyum, bersyukur atas sebuah drama yang mungkin (walau saya pribadi gak terlalu yakin) disutradarai oleh Allah sebagai contoh bagi Kita yang setiap waktu \"merengek-rengek\" meminta sesuatu bahkan hingga menangis. Mungkin bukannya Allah tidak peduli, mungkin bukan pula Dia tidak mau karena tidak sesuai dengan rencanaNya. Mungkin masalahnya hanya waktunya belum tiba.

\"Mintalah maka kamu akan diberi.\"

Jumat, Juni 06, 2008

Setiap Langkah adalah Anugerah


Seorang professor diundang untuk berbicara di sebuah basis militer.
Di sana , ia berjumpa dengan seorang prajurit yang tak mungkin dilupakannya, Ralph, penjemputnya di bandara.

Setelah saling memperkenalkan diri, mereka menuju tempat pengambilan bagasi.

Ketika berjalan keluar, Ralph sering menghilang.
Banyak hal dilakukannya.

Ia membantu seorang wanita tua yang kopornya jatuh dan terbuka, kemudian mengangkat dua anak kecil agar mereka dapat melihat sinterklas.

Ia juga menolong orang yang tersesat dengan menunjukkan arah yang benar.
Setiap kali, ia kembali ke sisi sang professor dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.

Dari mana Anda belajar melakukan semua hal itu ? tanya sang professor.
Melakukan apa ? tanya Ralph.

Dari mana Anda belajar untuk hidup seperti itu ? desak sang professor.
Oh, kata Ralph, selama perang .....
Saya kira, perang telah mengajari saya banyak hal.

Lalu ia menuturkan kisah perjalanan tugasnya di Vietnam .
Juga tentang tugasnya saat membersihkan ladang ranjau, dan bagaimana ia harus menyaksikan satu per satu temannya tewas terkena ledakan ranjau di depan matanya.

Saya belajar untuk hidup di antara pijakan setiap langkah. katanya .......
Saya tidak pernah tahu, apakah langkah berikutnya adalah pijakan terakhir,
sehingga saya belajar untuk melakukan segala sesuatu yang sanggup saya lakukan
tatkala mengangkat dan memijakkan kaki serta mensyukuri langkah sebelumnya.

Setiap langkah yang saya ayunkan merupakan sebuah dunia baru, dan saya kira sejak saat itulah saya menjalani kehidupan seperti ini.

Kelimpahan hidup tidak ditentukan oleh berapa lama kita hidup,
tetapi sejauh mana kita menjalani kehidupan yang bermakna bagi orang lain.

Nilai manusia ... tidak ditentukan dengan bagaimana ia mati, melainkan bagaimana ia hidup.

Kekayaan manusia bukan apa yang ia peroleh, melainkan apa yang telah ia berikan.

Selamat menikmati setiap langkah hidup Anda dan
BERSYUKURLAH SETIAP SAAT .......

Banyak orang berpikir bagaimana mengubah dunia ini.
Hanya sedikit yang memikirkan bagaimana mengubah dirinya sendiri..