Tampilkan postingan dengan label Renungan Minggu Bersama Rm. Tonny. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan Minggu Bersama Rm. Tonny. Tampilkan semua postingan

Sabtu, September 20, 2008

Homily Minggu biasa ke-25_tahun A_2008




Minggu Biara 25_Thn A 2008_Tonny Blikon, SS.CC Paroki St. Odilia
Citra Raya – Tangerang


Yes 55: 6-9 Flp 1:20c-24.27a Mat 20:1-16a

Pengantar

Tema Bulan KS tahun ini adalah kemurahan hati Allah. Kita tahu bahwa Allah sangat murah hati kepada setiap orang. Tetapi kadang-kadang kemurahan hati Allah itu membuat kita tidak puas jika kita menyadari bahwa yang menjadi prioritas Allah itu adalah orang lain dan bukannya diri kita.

Allah itu Mahamurah. Setiap tindakan baik kita pasti akan mendapat pahala. Jika Allah nampak bermurah hati lebih kepada orang lain, itu bukanlah urusan kita untuk mempertanyakan mengapa Allah bersikap demikian, tetapi hendaknya kita belajar dari Allah untuk menunjukkan perhatian kepada orang-orang yang lemah dan tak berdaya. Kemuarahan hati Allah terhadap mereka hendaknya menjadi inspirasi bagi kita dan bukannya membuat kita iri hati.

Dalam perayaan ekaristi ini kita diajak untuk menghitung berkat Allah yang kita terima. Berkat-Nya selalu lebih banyak daripada yang kita harapkan.


Renungan:

Saudara dan saudariku yang terkasih!
Kemarin dalam perjalanan ke Oasis, saya mendengar radio L-Sinta bicara soal Hot Properti. Hal ini memberikan inspirasi bagi saya untuk untuk mengajak kita semua memahami perumpamaan Yesus dalam bacaan Injil tadi dalam sebuah kita berikut ini. Saya coba menempatkan perumpamaan ini dalam situasi modern.

Di salah satu cluster di wilayah Citra I ada 4 rumah yang mau dijual. Nilai masing-masing rumah itu berbeda. Rumah pertama bernilai 600 juta. Rumah ke-2 bernilai 500 juta. Rumah ke-3 bernilai 400 juta. Dan rumah ke-4 bernilai 300 juta.

Pemilik rumah pertama tadi saya sebut saya Pak Prapto. Pada suatu hari anaknya kepada Pak Prapto: ”Papa... kalau ada orang yang mau memberi rumah dengan harga 1M, apakah Papa mau menjual rumah ini” Papa itu menjawab: ”Tentu Papa akan menjualnya”.

Keesokan harinya, tiba-tiba ada yang bertelepon bahwa dia mau membeli rumah itu dengan harga 1M. Pak Prapto bingung tapi juga sangat bahagia. Transaksi segera terjadi. 1 M dibayar kontan. Dua hari kemudian, Pak Prapto tahu bahwa 3 rumah yang lain juga telah terjual kepada pembeli yang sama. Dia bertanya berapa harga belinya? Masing-masing orang menjawab: 1 M. Bagaimana perasaanmu kalau anda adalah orang yang memiliki rumah pertama tadi?

Pak Prapto menjadi marah kepada pembeli itu. Dia segera menelponnya dan mempersoalkan harga ketiga rumah yang lain: ”Kok rumah saya dibeli dengan harga yang sama dengan 3 rumah yang lain, yang nota bene lebih sederhana dari rumah saya?” Penelpon itu menjawab: ”Apakah saya telah menipu Bapa? Bukankah kita telah sepakat soal harnyanya 1 M? Atau irihati-kah kau karena aku murah hati?

Saudara dan saudariku
Untuk memahami perumpamaan Yesus tadi, kita harus ingat bahwa para pekerja yang masuk kerja jam 5 sore bukanlah orang malas yang mau menghabis-habiskan waktu. Mereka sebenarnya adalah para pekerja yang sangat membutuhkan pekerjaan. Kenyataannya bahwa mereka menunggu dengan pernuh harapan sampai jam 5 sore. Itu mau menunjukkan bahwa mereka memang sangat membutuhkan pekerjaan.

Pada zaman Yesus, orang bekerja dengan upah harian. Gaji langsung dibayar pada sore. Jika seseorang tidak bekerja hari ini berarti keluarganya tidak punya apa-apa untuk bisa dimakan pada keesokan harinya. Orang yang mendapat kerja pada pagi hari tentu merasa bahagia. Bukan hanya dia tetapi seluruh keluarganya.

Saudara dan saudariku
Mengapa Yesus menceritrakan perumpamaan ini? Apa yang ingin ia sampaikan? Di dalam kenyataan hidup saat itu, siapakah yang dimaksudkan dengan para pekerja yang bekerja dari pagi dan siapakah yang dimaksudkan dengan para pekerja yang masuk terlambat?

Para pekerja yang datang terlambat adalah para pendosa. Mereka yang mendengarkan Yesus dan bertobat. Sedangkan para pekerja yang bekerja mulai dari pagi adalah orang-orang Farisi. Mereka marah karena para pendosa bertobat sehingga masuk Kerajaan Allah dan mendapat ganjaran yang sama sebagaimana mereka pikirkan mereka akan mendapatkannya.

Sikap mereka itu bisa dibayangkan seperti seseorang yang mengkritik Yesus karena Ia mengampuni seorang pendosa di atas kayu salib, dengan berkata: ”Hari ini juga engkau akan berada bersama dengan Aku di dalam firdaus” (Luk 23:43)

Seandainya para pekerja yang masuk lebih awal tidak tahu berapa banyak yang dibayar kepada para pekerja yang masuk kemudian, mungkin mereka akan kembali ke rumah dengan penuh syukur dan sukacita. Tetapi kenyataannya mereka kembali dengan penuh amarah dan irihati.

Saudara dan saudariku
Pertanyaan-pertanyaan yang muncul adalah: mengapa para pekerja yang masuk lebih awal tadi tidak suka atas kebaikan atau nasih baik yang dialami oleh para pekerja yang masuk paling terakhir? Atau kenapa Pak Prapto dalam kisah modern tadi menjadi marah karena nasib baik yang dialami oleh ke-3 tetangganya yang lain itu? Atau lebih umum lagi, mengapa orang jaman ini merasa bahagia atau sedih tergantung pada penilaian mereka apakah hidup mereka lebih baik atau tidak daripada orang-orang yang ada di sekitar mereka?

Yesus menjawab pertanyaan-pertanyaan itu sama seperti tukang kebun anggur memberikan jawaban kepada para pekerja yang masuk lebih pagi: ”Saudara, apakah aku telah membohongi engkau? Atau irihati-kah kau karena Aku murah hati?

Dalam hidup ini, seringkali kita tidak suka dengan nasib baik yang dialami oleh orang lain karena kita irihati kepada mereka. Yang membuat kita irihati adalah karena kita berpikir bahwa mereka lebih baik daripada kita, bahwa mereka lebih beruntung daripada kita. Mereka lebih berbakat, lebih kaya, lebih cakep, lebih cantik, dll. Singkatnya semua yang ’lebih’ itu ada pada mereka.

Itu pikiran kita. Sayang sekali! Jika kita berpikir demikian maka kita telah melakukan suatu kesalahan: menilai orang lain berdasarkan standar yang sangat duniawi. Bukan standar Allah. Kalau kita menilai mereka berdasarkan ukuran yang diberikan oleh Allah maka kita akan menyadari bahwa kita sama-sama bernasib baik.

Siapa tahu bahwa mungkin dalam rencana Allah, talentamu yang hanya sedikit menurut ukuran duniawi itu justru sangat berharga. St. Paulus berbicara tentang hal ini dalam suratnya kepada Jemaat di Korintus: ”Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti” (1Kor 1:27-28).

Inilah cara kerja Allah. Berbicara atas nama Allah, nabi Yesaya dalam bacaan I tadi berkata: ”Rancangan-Ku bukanlah rancanganmu dan jalanmu bukanlah jalan-Ku. Seperti tingginya langit dari bumi, demikian pun jalan-Ku lebih luhur dari jalanmu dan pikiran-Ku lebih mulia dari pikiranmu”.

Jumad kemarin saya beri pengajaran pada kharismatik. Temanya: Firman-Mu adalah pelita bagi langkahku dan terang bagi jalanku” (Mzm 199:105). Saya berikan beberapa ayat penuntun berkaitan dengan masalah-masalah yang seringkali kita alami; salah satunya adalah soal irihati. Jika anda merasa iri hati, renungkan teks-teks berikut ini:

• 1Kor 3:3 “Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi.

• 1Kor 13:4 “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong”

• Amsal 14: 30 “Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang”

• 1Pet 2:1 “Karena itu buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah”.

Saudara dan saudariku
Bacaan injil hari ini mengajak kita untuk berhenti membandingkan diri kita dengan orang lain. Injil mengundang kita untuk menerima diri kita sebagaimana adanya kita. Ia mengajak kita untuk mengikuti nasihat rasul Paulus kepada umat di Galatia: ”Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain” (Gal 6:4).

Saudara dan saudariku
Hal yang terpenting dalam hidup ini bukanlah apa yang orang lain pikirkan tentang dirimu, tetapi apa yang Allah pikirkan tentang anda. Bukan soal bagaimana orang lain telah menilai saya tetapi tetapi bagaimana Allah menilai hidup saya.

Saudara dan saudariku
Iri hati membuat kita buta terhadap kemurahan hati Allah. Sama seperti orang Farisi, merasa dirinya lebih baik dari orang lain, Akhirnya malah tidak pernah mendapatkan mujizat apa-apa bahkan tidak mendapatkan keselamatan karena 'mengurusi' dan menghakimi orang lain terus-terusanan. Biasanya orang yang tangannya sibuk, mulutnya gak bekerja, tapi kalau tangannya diam alias nganggur justru mulutnya sibuk. sibuk ngerasani orang dan sirik sama orang lain.

Penegasan:

Amsal 14: 30 “Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang”

Kalau kita memelihara iri hati terus menerus, maka tanpa sadar kita yang tadinya menerima rahmat Allah lebih dulu dari orang lain, pelan tapi pasti justru iman kita pelan-pelan mundur teratur.

Kalau kita menuntut bahwa Allah harus adil seperti apa yang kita pikirkan, maka saya kira kita harus malu. Rom 5:8 ”Allah telah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa”. Apakah Allah bersikap adil dalam hal ini? Keadilan menurut pandangan kita? Itu karena kemurahan hati Allah.

Saudara dan saudariku
Supaya belajar murah hati kita harus menyingkirkan jauh-jauh sikap iri hati dan mau berrekonsiliasi paling tidak dengan diri sendiri. Salah satu kemurahan hati Allah bisa dialami dalam sakramen rekonsiliasi. Kita bisa datang kapan saja. Tapi sayang tidak semua orang memanfaatkannya? Berapa sih dari antara kita yang mau mengalami kemurahan hati Allah yang ingin ia tawarkan itu?

Kita harus mengalami kemurahan hati Allah, baru kita bisa bermurah hati. Maka datanglah ke kamar pengakuan untuk mengalami kemurahan hati Allah. Kalau kita merasa ’tidak’ berdosa atau tidak perlu perlu mengakui dosa, saat seperti itulah justru kita mulai menyombong kan diri.

Lantas mana bisa kita bermurah hati? Ini tantangan bagi kita semua terutama para kelompok 'suci' seperti karismatik, Legio Maria, kelompok doa Padre Pio. Kalau tidak maka kita akan menjadi sama seperti orang-orang Farisi yang iri hati. Kita tidak jauh seperti para pekerja yang masuk lebih pagi, tetapi suka iri hati.

"Bila ada yang tersinggung dengan homili ini, berarti rahmat Tuhan sudah menaungi anda, silahkan bertemu dengan saya dalam kamar pengakuan dosa".

Marilah kita hening sejenak dan berdoa:
Tuhan ajariah saya untuk mengatasi sikap irihati dan dengki terhadap sesama karena nasib baik yang mereka alami.

Singkirkanlah dari dalam hati saya, segala kepahitan yang merasuki hati dan pikiran saya, yang selalu membuat saya irihati atas berkat yang Engkau berikan kepada orang lain; mereka yang seharusnya saya anggap sebagai saudara dan saudariku di dalam Kristus

Bebaskanlah saya dari kebutaan moral akibat irihati yang membuat saya selalu bertanya tentang kebijaksaan dan kebebasan-Mu dalam membagi-bagikan rahmat dan berkat.

Sadarkanlah saya selalu bahwa dalam hal ini Engkaulah yang lebih mengetahui apa yang terbaik. Ajarilah saya untuk mensyukuri segala anugerah dan berkatmu yang telah Engkau curahkan kepada saya.

Ajarilah saya untuk menghitung segala berkat-Mu yang telah saya terima....yang masih saja Kau berikan hari demi hari.

Ajarilah saya untuk menggunakan semua berkat-Mu itu dengan segenap kemampuanku, dengan bijaksana dan kreatif.

Tuhan...Engkaulah sumber segala rahmat. Engkaulah sumber segala berkat. Engkaulah sumber kebahagiaanku. Amen.

Minggu, September 07, 2008

Homily Minggu biasa XXIII_tahun A_2008

A_23rd Sunday OT – 2008_St Odilia Parish Tonny Blikon

Ezekiel 33:7-9 Romans 13:8-10 Matthew 18:15-20
Dalam bacaan pertama tadi, kita mendengar Allah bersabda kepada nabi Yehezkiel: “Hai anak manusia, Aku mengangkat engkau menjadi penjaga kaum Israel” sedangkan dalam bacaan Injil tadi Yesus berbicara tentang apa yang harus kita buat jika melihat sesama kita melakukan kesalahan atau dosa.
Peranan sebagai ‘penjaga’ dan tugas untuk ‘correctio fraternal’ adalah hal yang tidak mudah. Tetapi ini adalah suatu tugas yang harus kita jalankan.
Ada seorang wanita – irma meninggalkan gereja ketika masih remaja. Selama 9 tahun dia tidak pernah ke gereja. Tapi syukur bahwa kasih Tuhan akhirnya mengantar dia kembali ke gereja. Suatu ketika Irma ini berceritra seperti ini: hal yang paling menyakitkan selama 9 tahun pengembaraannya adalah bahwa ketika ia tidak muncul lagi di gereja, atau jarang aktif lagi dalam lingkungan, tidak ada orang yang pernah berkontak dengan dia, bertanya “gimana kabarmu? Kok nda muncul-muncul lagi?”. Tidak ada orang yang bertelepon atau mengunjungi saya untuk menanyakan apakah saya ada masalah atau tidak? Seakan-akan semua orang tidak pernah merindukan kehadirannya. Saya mendapat kesan bahwa orang-orang gereja tidak membutuhkan saya.”
Saudara dan saudariku….. banyak umat paroki kita yang tidak aktif di lingkungan atau di paroki. Ada banyak alasan tentunya. Pertama, bisa jadi karena gereja terlalu jauh…ongkos ke gereja lebih mahal dari biaya hidup sehari. Kedua, bisa juga mereka pernah merasa sakit hati dengan orang-orang tertentu di di dalam suatu kelompok, sehingga mereka tidak mau muncul lagi. Terhadap situasi ini, apa yang harus kita buat? Apakah kita membela diri dengan mengatakan “Itukan bukan urusan saya?”
Mungkin ada yang bertanya, mengapa menjadi urusan saya? Kan itu urusan dia sendiri apakah dia mau aktif atau tidak. Ingat dalam bacaan pertama tadi, Allah berfirman: “Jika engkau tidak berkata apa-apa untuk memperingatkan orang jahat itu supaya bertobat dari hidupnya....maka Aku akan menuntut pertanggung-jawaban dari padamu.”
Salah satu panggilan kita sebagai umat Kristen adalah sebagai nabi. Sebagai nabi kita dipanggil untuk menjadi “corong” Allah mengingatkan orang yang bersalah atau orang yang jarang aktif supaya mereka kembali.
Untuk merasakan daya atau kekuatan firman Allah dalam bacaan pertama tadi, saya mau membaca sekali lagi teks tadi tapi mau mengantikan dengan nama seseorang.
Tuhan bersabda demikian, “Hai Tony, Aku telah mengangkat engkau menjadi penjaga umat paroki St. Odilia – Citra Raya. Bilamana engkau mendengar sesuatu firman dari pada-Ku, peringatkanlah mereka demi nama-Ku …..dst
Kita bisa terapkan firman untuk diri kita masing-masing sesuai tugas dan fungsi kita di dalam gereja.
Misalnya sebagai ketua lingkungan, Hai Davi, Aku telah mengangkat engkau menjadi penjaga umat lingkungan St. Antonius – Paroki St Odilia …..
Jadi, saudara dan saudariku… kita tidak bisa mengatakan “itu bukan urusan saya, kalau dia mau aktif atau nggak!”
Pesan ini menjadi jelas dan sangat praktis dalam bacaan Injil hari ini: “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia di bawa empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali”
Kita harus agak hati-hati jika menegur sesama kita. Motivasi kita dalam ‘menegur atau memperingati’ mereka bukan untuk mempersalahkan dia tetapi untuk mendapat kembali mereka.
Bacaan Injil hari ini juga memberikan 3 tahap bagaimana menegur sesama: (1) Tegurlah dia secara pribadi. (2). Cobalah sekali lagi dengan mengajak orang-orang yang bisa dipercayai. (3). Bawalah masalah ini kepada jemaat.
Beberapa catatan untuk diperhatikan dalam ‘menegur”: Jika anda tidak mencintai orang itu, janganlah menegur dia, biarlah orang lain yang melakukannya. Sebab jangan sampai anda terbawa emosi.
Jangan suka membicarakan kesalahan atau dosa orang lain tanpa kehadiran orang itu. Itu namanya gossip. Gossip itu sesuatu yang sangat menyakitkan. Bukan baru zaman ini tetapi bahkan sejak abad ke 6 Bc, pemazmur telah memohon kepada Allah untuk melindungi dia dari orang-orang yang suka gossip:
Mzm 57 “Kiranya Ia mengirim utusan dari surga dan menyelamatkan aku dari orang yang suka menerkam anak-anak manusia yang giginya laksana tombak dan panah dan lidahnya laksana pedang tajam”
Mzm 64: “sembunyikanlah aku terhadap persepakatan orang jahat. Yang menajamkan lidahnya seperti pedang, yang membidikan kata yang pahit seperti panah”
Mzm 140: Luputkanlah aku, ya Tuhan dari manusia jahat, mereka yang menajamkan lidahnya seperti ular, bisa ular sendok ada di bawah bibirnya”
Tetapi zaman ini lebih parah lagi. Gossip malah masuk dalam tabloid atau acara-acara TV. Zaman ini orang merasa tidak salah kalau membicarakan kesalahan atau masalah orang lain. Bahkan di dalam gereja sendiri. Ada yang merasa bahwa mereka ‘telah diurapi’ untuk meng-ekxpose kesalahan-kesalahan orang lain. Mereka merasa seakan memainkan peranan sebagai ‘nabi’

Saudara dan saudariku
Ketika Allah memilih Yehezkiel sebagai ‘penjaga’ atas umat Israel, Allah tidak memberikan dia ijin untuk menyebarkan gossip.
Kenyataannya ..... gosip telah menghancurkan hidup banyak orang, menghancurkan perkawinan, membuat anggota-anggota tubuh Kristus saling memusuhi dan menimbulkan perselisihan dan perpecahan di dalam gereja.
Rasul Yakobus membandingkan lidah manusia dengan api yang bila dibiarkan tidak terkontrol akan dinyalakan dan dikobarkan oleh iblis. Rasul Yakobus berkata, "Lihatlah, betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar" (Yakobus 3:5-6). Lidah yang diserahkan kepada gosip adalah seperti api liar yang menjalar ke dalam hutan membawa pengrusakan.

Gosip adalah akar dari perselisihan. Ketika kita menghentikan gosip, kekacauan dan perselisihan akan berhenti juga.
Sebagai pendengar firman Allah, langkah berikut yang mesti kita ambil adalah melaksanakannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Amen.

Homily Minggu biasa XXII tahun A_2008

A_22nd Sunday OT_Tonny Blikon, SS.CC
St. Odilia Parish – citra Raya

Setiap orang yang mau mengikuti Aku harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan meng-ikuti Aku”

Saudara dan saudariku....
Bicara soal salib berarti bicara soal penderitaan. Dan tentu banyak orang tidak suka kalau bicara soal ini, dan tentu tidak mengharapkannya. Tetapi dalam kehidupan ini, sebagai pengikut Yesus, salib memang tidak bisa dihindari. Bahkan dikatakan sebagai hal yang mesti kita tanggung.

Memang ada beberapa cara pandang terhadap salib atau penderitaan ini. Ada yang melihat sebagai masalah atau beban yang memang harus dihindari. Tetapi ada juga melihat sebagai suatu rahmat yang membimbing dia kepada Yesus.

Seringkali ada yang mengeluh seperti ini, Tuhan....mengapa salib saya terlalu berat? Mengapa punya orang lain kok ringan-ringan saja?

Ada seorang yang sedang tenderita penyakit lupus. Setiap kali mendapat telepon dari dia, dia selalu mengeluh dan bertanya: “Romo...kok beban saya ini berat banget! Saya sudah tidak percaya lagi bahwa Tuhan itu baik.

Saya lalu mengajak dia untuk berdoa bersama dengan saya. Pertama kali dia mengikuti ajakan saya, tetapi lama kelamaan dia dia berkata: “Ah, sudahlah romo. Saya merasa bahwa Tuhan itu sudah tuli pada doa-doaku. Tuhan yang pernah bersabda: "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan” toh tidak memberikan padaku apa yang kupinta. Tuhan bahkan tak pernah membukakan pintu bagi diriku.” Lalu dia berdiri dan meninggalkan aku sendirian.

Kekecewaan telah menjadi beban hidupnya. Kekecewaan telah menyatu dengan hidupnya.
Memang, kadang kita kalah dalam menghadapi hidup ini. Bahkan kalah dengan pahit.

Yesus sendiri bahkan harus memikul salib-Nya. Dalam penderitaan yang amat mendalam Dia berseru: “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?", yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?”.

Seruan itu tidaklah membuat Bapa datang membantunya pada saat itu juga. Seringkali dalam penderitaan hidup ketika Allah seakan tidak menjawab doa-doa kita, mungkin kita kecewa. Betapa sia-sianya meminta kepada Tuhan karena Tuhan telah tuli. Tuhan sering tidak datang saat kita mengharapkan kehadiranNya. Tetapi sungguhkah Tuhan itu telah tuli? Sungguhkah Tuhan bersikap masa bodoh dan tidak mau peduli pada harapan dan doa-doa kita?

Satu kalimat dari Doa Bapa Kami yang setiap hari kita doakan adalah “Jadilah kehendakMU di atas bumi seperti di dalam surga.” Tetapi mengapa hanya kehendak Bapa yang baik bagi diri kita saja, yang menyenangkan dan membahagiakan kita, membuat kita bersyukur? Mengapa bila kita mengalami peristiwa yang membuat kita berduka, yang menyakitkan dan memedihkan kita, tidak mampu kita terima sebagai satu anugerahNya juga?

Salib dan penderitaan hidup dilihat sebagai jalan untuk lebih mendekatkan kita pada Tuhan. Penderitaan kita merupakan ‘catatan kaki’ dari penderitaan Yesus.

Karena itu sepenggal puisi yang amat indah, karya Rabindranath Tagore (penyair India, 1861-1941), berikut ini hendaknya menjadi inspirasi bagi kita:

Dalam bukunya Gitanjali bab ke 79:
Janganlah aku berdoa agar diluputkan dari bahaya tetapi agar berani untuk menghadapinya.
Janganlah aku bermohon untuk dihindarkan dari kepedihan tetapi agar mampu menaklukkannya.
Janganlah aku mencari teman senasib dalam pergumulan hidup ini tetapi agar mampu berjuang dengan daya upayaku sendiri. Janganlah aku meminta agar diselamatkan dari keterasingan tetapi agar dengan sabar melangkah menuju ke kebebasanku. Janjikanlah padaku agar aku tidak menjadi seorang pengecut: Tidak hanya sanggup merasakan keagunganMu dalam keberhasilanku tetapi juga dapat merasakan genggamanMu di dalam kegagalanku.

Suatu sajak indah yang patut kita renungkan dalam menghadapi kesulitan kita sehari-hari.

Rasul Paulus berkata dalam 1Kor 10:13 “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya”

Hadiah terbesar yang dapat diberikan oleh seekor induk elang kepada anak-anaknya , bukanlah serpihan-serpihan makanan pagi, namun ketika ia melemparkan mereka dari jurang yang tinggi dan terjal. Pada detik pertama mungkin anak-anak itu akan berpikir, induk mereka kok keterlaluan? Mereka mungkin menjerit dalam ketakutan dan berpikir akan mati. Sesaat kemudian, mereka menyadari bahwa bukan kematianlah yang mereka terima namun kesejatian diri sebagai elang, yaitu bisa terbang tinggi. Kesediaan memanggul salib membuktikan bahwa kita adalah murid Kristus yang sejati.

"..karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak." Ibrani 12:6

Apakah gubukmu terbakar ?

Satu-satunya orang yang selamat dari kecelakaan sebuah kapal terdampar di pulau yang kecil dan tak berpenghuni. Pria ini segera berdoa supaya Tuhan menyelamatkannya, dan setiap hari dia mengamati langit mengharapkan pertolongan, tetapi tidak ada sesuatupun yang datang. Dengan capainya, akhirnya dia berhasil membangun gubuk kecil dari kayu apung untuk melindungi dirinya dari cuaca, dan untuk menyimpan beberapa barang yang masih dia punyai. Tetapi suatu hari, setelah dia pergi mencari makan, dia kembali ke gubuknya dan mendapati gubuk kecil itu terbakar, asapnya mengepul ke langit. Dan yang paling parah, hilanglah semuanya. Dia sedih dan marah. "Tuhan, teganya Engkau melakukan ini padaku?" dia menangis. Pagi- pagi keesokan harinya, dia terbangun oleh suara kapal yang mendekati pulau itu. Kapal itu datang untuk menyelamatkannya. "Bagaimana kamu tahu bahwa aku di sini?" tanya pria itu kepada penyelamatnya. "Kami melihat tanda asapmu", jawab mereka.

Mudah sekali untuk menyerah ketika keadaan menjadi buruk. Tetapi kita tidak boleh goyah, karena Tuhan bekerja di dalam hidup kita, juga ketika kita dalam kesakitan dan kesusahan. Ingatlah, ketika gubukmu terbakar, mungkin itu "tanda asap" bagi kuasa Tuhan. Ketika ada kejadian negatif terjadi, kita harus berkata pada diri kita sendiri bahwa Tuhan pasti mempunyai jawaban yang positif untuk kejadian tersebut.

Kamu berkata, "Itu tidak mungkin."
Tuhan berkata, "Tidak ada hal yang tidak mungkin." (Lukas 18:27)

Kamu berkata, "aku terlalu capai."
Tuhan berkata, "Aku akan memberikan kelegaan padamu." (Matius 11:28)

Kamu berkata, "Tidak ada seorangpun yang mencintai aku."
Tuhan berkata, "Aku mencintaimu." (Yohanes 3:16-Yohanes 13:34)

Kamu berkata, "Aku tidak bisa meneruskan."
Tuhan berkata, "Kasih karuniaKu cukup." (2 Korintus 12:9 - Mazmur 91:15)

Kamu berkata, "Aku tidak mengerti."
Tuhan berkata, "Aku akan menuntun langkah-langkahmu." (Amsal 3:5-6)

Kamu berkata, "Aku tidak bisa melakukannya."
Tuhan berkata, "Kamu bisa melakukan semuanya." (Filipi 4:13)

Kamu berkata, "Ini tidak berharga."
Tuhan berkata, "Itu akan berharga." (Roma 8:28)

Kamu berkata, "Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri."
Tuhan berkata, "Aku memaafkanmu." (1 Yohanes 1:9-Roma 8:1)

Kamu berkata, "Aku tidak bisa mengatasi."
Tuhan berkata, "Aku akan menyediakan kebutuhanmu." (Filipi 4:19)

Kamu berkata, "Aku takut."
Tuhan berkata, "Aku tidak memberikan padamu roh ketakutan." (II Timotius 1:7)

Kamu berkata, "Aku selalu kuatir dan frustasi."
Tuhan berkata, "Serahkan segala kekuatiranmu kepadaku." (I Petrus 5:7)

Kamu berkata, "Aku tidak mempunyai iman yang kuat."
Tuhan berkata, "Aku memberi setiap orang iman menurut ukurannya."(Roma12:3)

Kamu berkata, "Aku tidak pandai."
Tuhan berkata, "Aku memberikan padamu hikmat." (I Korintus 1:30)

Kamu berkata, "Aku merasa aku sendirian."
Tuhan berkata, "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu atau membiarkanmu."(Ibrani 13:5)

Sabtu, Agustus 02, 2008


Doa untuk para imam

Tuhan Yesus Kristus, Engkau telah memilih imam-imam-Mu dari tengah-tengah kami dan mengutus mereka untuk mewartakan sabda-Mu dan berkarya dalam nama-Mu. Untuk anugerah bagi gereja-Mu yang sedemikian besar itu, kami menghaturkan puji-syukur dan terima kasih kepada-Mu. Khususnya kami ingin bersyukur kepada-Mu atas rahmat panggilan imamat yang telah Engkau anugerahkan kepada ........

Kami mohon, penuhilah mereka dengan api cinta-Mu agar pelayanannya menampakkan kehadiran-Mu dalam gereja. Karena dia bagaikan bejana tanah liat yang rapuh, kami berdoa, semoga kekuatan-Mu dapat mengatasi kelemahannya. Bila ia dirundung duka dan derita, janganlah biarkan ia jatuh, bila ia mengalami siksaan janganlah ia ditinggalkan. Berikanlah semangat kepadanya lewat doa-doanya, agar setiap hari ia hidup dalam terang misteri wafat dan kebangkitan-Mu.

Pada saat lemah dan tak berdaya, utuslah kepadanya Roh-Mu dan bantulah ia untuk senantiasa bersyukur kepada Bapa Surgawi, dan berdoa untuk orang-orang berdosa dan malang. Dengan bantuan Roh Kudus yang sama, letakkanlah sabda-Mu pada bibirnya dan cinta-Mu dalam hatinya, untuk membawa kabar gembira kepada orang yang miskin dan penyembuhan kepada orang yang luka batinnya.

Dan semoga Ibu-Mu, Maria, yang dahulu telah menjadi hadiah bagi murid yang Engkau kasihi, kini menjadi hadiah pula bagi setiap imam, khususnya bagi ......... Anugerahkanlah supaya dia yang telah membentuk Engkau menjadi wujud manusia, kiranya dapat pula membentuk ....... menjadi wujud Ilahi, oleh kuasa Roh-Mu, menuju kemuliaan Allah Bapa. Amin.

Kamis, Juli 17, 2008

Mata Adalah Pelita Tubuh



Triduum Hari Pertama - Pesta Nama St. Odilia

Mata adalah Pelita Tubuh

Bacaan: Hak 16: 21-30

Injil Mat 6: 19-22


Saudara dan saudariku yang terkasih

Kita semua tentu sudah tahu sedikit tentang riwayat hidup St. Odilia yang menjadi pelindung paroki kita ini. Bahwa Ia terlahir sebagai anak yang buta. Karena kebutaannya itulah ia ditolak oleh ayahnya. Karena itu tema Triduum hari pertama ini adalah: Mata adalah pelita tubuh.

Hidup kita tergantung pada pandangan mata kita. Hampir semua yang dilakukan oleh tubuh tergantung pada kemampuan mata untuk melihat.

Menjadi buta itu adalah sesuatu yang tidak menyenangkan. Jika kita memandang sekeliling sekarang, kita melihat cahaya di mana-mana. Cahaya tersebut dibawa ke dalam tubuhmu. Dalam bacaan Injil tadi Yesus berbicara soal mata jasmani/fisik. Mata secara fisik, adalah pelita bagi tubuh, bukan pelita bagi akal (intelek) saya, bukan juga pelita bagi jiwa saya, tapi pelita bagi tubuh saya. Dan selama pelita itu bekerja dengan baik, kita mempunyai cahaya dalam tubuh kita.

Coba tutup mata anda dan lihat apa yang terjadi. Di saat anda menutup mata anda, segalanya menjadi gelap. Seketika itu juga anda tiba-tiba berada dalam kegelapan. Lalu anda buka mata anda, dan semuanya menjadi terang kembali.

Saudara dan saudariku....Dalam bacaan Injil hari ini Yesus berkata: “Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu.”

Di sini melalui pengalaman jasmani, Yesus ingin memberikan suatu ajaran rohani yang penting kepada kita. Untuk memahami ajaran Rohani ini saya ingin memanggil salah seorang misdinar untuk tampil ke depan.

Permainan: tutup mata salah seorang misdinar.

Bukan karena kegelapan yang mengelilingi dia, tetapi dia sendiri yang mengalami kegelapan tersebut. Cahaya masih bersinar di sekitarnya tetapi dia tidak dapat melihatnya, karena matanya tidak diperbolehkan untuk berfungsi. Begitu pula secara rohani, cahaya ada di sekeliling kita. Cahaya Tuhan bersinar atas kita. Tapi jika kita tidak melihatnya, alasannya bukan karena tidak ada cahaya. Alasannya karena ada yang kurang beres dengan mata rohani kita.

”Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu. Jika matamu jahat gelaplah seluruh tubuhmu”. Apa artinya ayat ini bagi kita? Terjemahan harafiah dari bahasa Yunani adalah: Jika matamu tunggal.....

Kebalikan dari pandangan tunggal adalah pandangan ganda atau pandangan kabur. Pandangan kabur tersebut dikarenakan mata yang tidak terfokus tajam. Jika anda dapat melihat dengan tajam, maka mata anda sehat. Jika mata anda tidak dapat melihat sesuatu dengan jelas dan tajam, maka mata tersebut kabur. Penglihatan anda tidak lagi tajam. Mereka yang memakai kacamata, dapat membuktikannya dengan mudah. Lepaskan kacamata anda dan penglihatan anda tidak lagi tunggal. Lensa mata membantu penglihatan anda menjadi tunggal, sehingga menjadi tajam dan terfokus. Kalau anda lepaskan kacamata, langsung penglihatan anda tidak tunggal lagi. Garis pandang menjadi kabur, dan ada juga yang tidak dapat melihat apa-apa sama sekali. Segalanya kelihatan kabur. Jadi Yesus bukan berbicara tentang mata yang 'baik' dalam pengertian 'sehat' secara umum - tetapi apa yang penting bagi mata adalah penglihatan yang tajam, atau tunggal.

Jadi jika ‘matamu baik’, artinya jika matamu tajam, terarah, terfokus kepada harta surgawi, maka ‘teranglah seluruh tubuhmu’, artinya hidup saudara akan baik. Tetapi ‘matamu jahat’, artinya matamu kabur...tidak terfokus dan terarah karena ada banyak hal yang anda lihat, maka ‘gelaplah seluruh tubuhmu’, artinya hidup kita akan jahat.

Dalam bacaan pertama tadi dikisahkan bahwa mata Simson yang dibutakan membuat dia kehilangan kekuatan sehingga tidak mampu berperan besar bagi dirinya. Ia ditawan orang Filistin, dijadikan kuli pada penggilangan gandum dan dijadikan obyek tertawaan orang.

Ef 1:18 ”Allah menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus”. Ayat ini menganjurkan agar mata hati kita menjadi terang, agar melihat hal-hal yang baik.

Allah menghendaki kita agar menjaga mata kita agar jangan sampai kita jatuh karena mata kita yang tidak bersih / rusak. Simson dicungkil matanya, dan karenanya ia tidak dapat melihat, dan karena ia tidak lagi dapat melihat, ia tidak dapat melawan orang Filistin. Iblis menggunakan cara yang sama pada anak-anak TUHAN, dengan berusaha membutakan mata rohani kita, agar kita tidak lagi dapat melihat mana yang benar, dan akhirnya kita tidak dapat menentukan arah kita, dan berakhir dengan masuk ke dalam maut yang kekal. Dengan membutakan mata, seseorang akan dengan mudah dikalahan, diikat, Oleh sebab itu seringkali seorang Kristen akan menjadi terikat dengan dosa atau suatu penyakit, setelah mata rohaninya dibutakan.

Setelah ditawan, Simson dijadikan kuli penggiling gandum, menjadi budak. Setelah mata rohani seorang Kristen dibutakan, dan jiwanya ditawan, maka otomatis ia akan dijadikan budak iblis, dan terus menerus akan dipaksa untuk melakukan dosa atau terikat akan suatu sakit penyakit, sama seperti Simson dipaksa menggiling gandum.

Yang perlu diingat adalah, jika kita sudah terlanjur menjadi buta rohani selama ini, segeralah berbalik pada TUHAN, seperti Simson yang memanjatkan doa terakhirnya, sehingga Allah memberinya kesempatan. Allah pasti mengampuni, hanya jika kita menyadari, dan mau bertobat. Saat ini kita masih mempunyai kesempatan, mari, jangan sia-siakan kesempatan ini, jangan merasa putus asa, masih ada kesempatan bagi kita yang berharap. Amen.

Pastor Tony Blikon, SS.CC

Sabtu, Juni 28, 2008

Tuaian memang banyak tetapi pekerja sedikit. Mengapa?

A_11th Sunday OT_St. Odilia Parish
By Tonny Blikon, SS.CC

Dalam bacaan Injil tadi, kita mendengar suatu keprihatinan Yesus yang mendalam: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirim pekerja-pekerja untuk tuaian itu”

Pertanyaan yang muncul adalah: mengapa pekerja sedikit? Atau lebih spesifik lagi, mengapa dalam dunia sekarang ini, banyak orang muda yang tidak tertarik menjadi imam, bruder, atau suster?

Ada 3 alasan yang bisa saya kemukan di sini.

Alasan pertama, karena kita tidak melakukan apa yang diminta oleh Yesus: berdoa mohon panggilan. Dalam Injil tadi Yesus katakan: “mintalah kepada tuan yang empunyai tuaian, supaya Ia mengirim pekerja-pekerja untuk tuaian itu”.

Saya mau tanya: berapa di antara kita yang berdoa secara teratur minta supaya para kaum muda kita berani memilih hidup membiara - menjadi suster, pastor, atau bruder?

Kapan terkahir kalinya anda berdoa mohon panggilan hidup membiara?
Kira-kira apa bunyinya?

Dalam bacaan Injil tadi kita dengar: “Ketika Yesus melihat orang banyak, tergeraklah hati-Nya oleh belaskasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala”. Yesus minta agar kita pun turut dalam keprihatinannya. Yesus minta kita berdoa kepada Bapa yang empunyai panenan untuk mengirim lebih banyak pekerja. Kita bisa mendukung panggilan hidup membiara melalui doa-doa kita dengan intensi mohon panggilan hidup membiara. Keprihatinan kita pun dapat ditunjukan dengan cara mendukung dana pendidikan dan karya para imam, biarawan dan biarawati.

St. Theresia Avila diangkat oleh gereja untuk menjadi pelindung para misionaris bukan karena dia telah berkeliling dunia mewartakan Yesus tetapi sepanjang hidupnya ia telah berdoa bagi para misionaris di seluruh dunia dan mohon panggilan hidup membiara bagi kaum muda.

Doa kita pun hendaknya jujur dan tulus. Artinya harus didasari atas motivasi yang luhur. Kalau ada yang berdoa seperti ini: “ibu-ibu marilah kita berdoa untuk Romo Tony yang sekarang ini lagi dekat dengan seorang mudika yang namanya Susi biar Tuhan menyadarkan dia, dst…” Bagi saya itu bukan doa tapi gossip. Orang itu sangat pandai membungkus niat busuknya dalam hal-hal yang rohani. Doa semacam itu tidak didasari atas motivasi yang luhur. Kalau memang anda punya keprihatinan yang tulus, bawalah itu di dalam doa-doa pribadimu.

Bapa ibu saudara dan saudariku.
Sekali lagi doa kita hendaknya jujur dan tulus dan didasari atas motivasi yang luhur. Saya berterimakasih kepada begitu banyak orang yang telah mendoakan saya. Pertama kepada ibu saya yang rela menjadi ‘korban’ bagi perjalanan awal panggilan saya.

Juga kepada papa yang rela menyerahkan putra sulungnya untuk bekerja di kebun anggur Tuhan. Saya teringat pesan papa ketika saya ditahbiskan: re lejo re go lok limaga. Pana ma mai glekat Alapsa. Pana suduk en, mo taku nikur si. Pana mulur-mulur, mo taku tue si. (Hari ini saya melepaspergikan engkau untuk mengabdi Tuhan. Maju terus, jangan menoleh. Jejaki jalan lurus. Maju terus, pantang mundur). Terima kasih saya juga kepada oma saya yang sejak saya masuk seminari menengah sampai detik ini, lilin untuk saya tidak pernah padam. Dan masih banyak orang lain yang dengan tulus dan setia mendoakan saya.

Ketika menerima tahbisan imam di Bandung, saya mendapat sebuah kartu ucapan dari Legio Mariae Yunior (anak-anak SMP dan SMU). Dan di dalam kartu itu mereka menulis: Kami tidak pernah mengenal romo ketika masih sebagai frater, tetapi sejak ada berita bahwa romo akan ditahbiskan, kami tak henti-hentinya telah berdoa untuk romo. Inilah doa-doa kami: 1500x doa Bapa Kami, 2000x doa Salam Maria dan 500x doa Kemuliaan. Hanya ini yang bisa kami berikan.

Saya tersentuh ketika membaca tulisan itu. Suatu hadiah yang sangat berarti bagi saya. Beberapa minggu lalu, saya memberikan kepada Legio Mariae yunior sebuah doa untuk seorang imam. Saya telah meminta dengan rendah hati agar mereka doakannya selama bulan Juni dan mungkin akan seterusnya.

Alasan kedua, mengapa zaman ini banyak orang tidak tertarik menjadi suster, pastor atau bruder – sangat terkait erat dengan keluarga. Banyak keluarga zaman ini tidak menjadi tempat yang baik untuk menumbuhkan benih panggilan dalam diri anak. Keluarga adalah “seminari kecil” tempat anak mengalami dan merasakan panggilan Tuhan. Kehidupan doa yang teratur secara bersama-sama bisa menjadi sarana yang baik untuk menumbukan minat anak pada hal-hal yang rohani. Kalau tidak ada kebiasaan semacam ini maka, kelak jika anak diminta untuk masuk seminari maka ia pasti tidak mau karena dia tidak pernah mengalami Tuhan. Pendek kata, dia tidak tertarik pada hal-hal yang rohani.

Sebagai orang tua, apakah anda pernah mengutarakan kepada anakmu untuk menjadi suster, bruder atau pastor? Kalau pernah kapan terakhir kalinya anda katakan itu?

Ada sebuah keluarga yang patut kita contoi. Di dalam rumah ada ruang doa dan ada kebiasaan doa secara teratur. Bapa-ibu dan dua orang anak, masing-masing mempunyai lilin dengan warna berbeda. Bapa: putih. Ibu: kuning. Anak pertama: merah. Sedangkan yang bungsu, lilinnya berwarna pink.

Dalam keluarga itu ada aturan mainnya. Kalau sang ayah berdoa, maka dia harus menyalakan lilinnya....begitu pun ibu dan anak-anak. Pada akhir bulan, mereka mengevaluasi siapa yang paling banyak berdoa. Orang yang lilinnya paling pendek jelas adalah orang yang paling banyak berdoa.

Sang ibu pernah merasa malu ketika si bungsu mengatakan bahwa dia malas berdoa. Juga pada suatu kesempatan, sang ibu sampai meneteskan air mata ketika si bungsu berdoa bagi kesembuhan ibunya yang pada waktu itu lagi sakit. Doanya begitu polos dan sederhana. Dan ternyata Tuhan mendengarkan. Keesokan harinya ibu itu sembuh.

Alasan ketiga, mengapa zaman ini banyak orang tidak tertarik menjadi biarawan-biarawati adalah sesuatu yang menyangkut diri kita masing-masing secara pribadi. Apakah kita pernah membuka diri bagi kemungkinan panggilan itu bertumbuh di dalam dirimu?

Pada waktu misa perdana di rumah saya, ada kelompok anak TK yang memainkan sebuah fragmen mini tentang panggilan hidup. Banyak actor kehidupan yang ditampilkan. Ada petani, pedagang, pengusaha, guru dll. Pada suatu adegan….seorang guru menganjurkan anak didiknya untuk menjadi suster…… tetapi anak itu dengan ketus menjawab TIDAK MAU. Apa alasannya, tanya guru tadi. Dan anak itu menjawab: Suster artinya SUSAH TERUS. Serentak semua orang tertawa.

Ketika merenungkan bacaan Injil hari ini, saya teringat akan fragmen tersebut. Saya hanya berkata: pantas tidak banyak lagi orang yang tertarik menjadi biarawan-biarawati.

Siapa di antara putra-putri Altar ini yang ingin jadi imam, bruder atau suster?

Saya mengajak anda untuk merenungkan ini.

Tangan-Tangan Mengagumkan Seorang Imam

Kita membutuhkannya di awal kehidupan,
kita membutuhkannya lagi di akhir kehidupan.

Kita merasakan kehangatan jabatan kasihnya,
kita mencarinya lagi kala tertimpa kemalangan hidup.

Di altar, setiap hari kita memandangnya,
tangan-tangan seorang raja di atas tahtanya tak setara dengan tangan-tangan imam dalam keagungannya; martabat mereka melampaui segalanya.

Dan kala kita dicobai dan menyimpang ke jalan dosa dan cemar, tangan-tangan imamlah yang akan membebaskan kita - tak hanya sekali, melainkan lagi dan lagi.

Dan kala kita menentukan pasangan hidup,
tangan-tangan yang lain mempersiapkan pesta bagi kita, tetapi tangan-tangan yang akan memberkati serta mempersatukan kita adalah tangan-tangan mengagumkan seorang imam.

Bilamanakah seorang pendosa yang malang dapat melakukan lebih baik dari meminta tangan-tangan imam untuk membimbing dan memberkatinya?

Kala ajal menyongsong kiranya semangat dan kekuatan kita diteguhkan dengan memandang dan merasakan urapan di tubuh kita oleh tangan-tangan mengagumkan seorang imam! Anonim

Saudara dan saudariku...
Bacaan Injil hari ini merupakan suatu tantangan bagi kita. Saya hanya mengajak kita untuk menghadapi tantangan itu. Caranya: mulailah dengan kehidupan doa yang rutin di dalam keluarga….anak-anak diajak berdoa mohon panggilan hidup membiara. Inilah cara yang paling baik untuk membangkitkan minat anak terhadap panggilan hidup membiara. Semoga.