Kamis, Juli 17, 2008

Mata Adalah Pelita Tubuh



Triduum Hari Pertama - Pesta Nama St. Odilia

Mata adalah Pelita Tubuh

Bacaan: Hak 16: 21-30

Injil Mat 6: 19-22


Saudara dan saudariku yang terkasih

Kita semua tentu sudah tahu sedikit tentang riwayat hidup St. Odilia yang menjadi pelindung paroki kita ini. Bahwa Ia terlahir sebagai anak yang buta. Karena kebutaannya itulah ia ditolak oleh ayahnya. Karena itu tema Triduum hari pertama ini adalah: Mata adalah pelita tubuh.

Hidup kita tergantung pada pandangan mata kita. Hampir semua yang dilakukan oleh tubuh tergantung pada kemampuan mata untuk melihat.

Menjadi buta itu adalah sesuatu yang tidak menyenangkan. Jika kita memandang sekeliling sekarang, kita melihat cahaya di mana-mana. Cahaya tersebut dibawa ke dalam tubuhmu. Dalam bacaan Injil tadi Yesus berbicara soal mata jasmani/fisik. Mata secara fisik, adalah pelita bagi tubuh, bukan pelita bagi akal (intelek) saya, bukan juga pelita bagi jiwa saya, tapi pelita bagi tubuh saya. Dan selama pelita itu bekerja dengan baik, kita mempunyai cahaya dalam tubuh kita.

Coba tutup mata anda dan lihat apa yang terjadi. Di saat anda menutup mata anda, segalanya menjadi gelap. Seketika itu juga anda tiba-tiba berada dalam kegelapan. Lalu anda buka mata anda, dan semuanya menjadi terang kembali.

Saudara dan saudariku....Dalam bacaan Injil hari ini Yesus berkata: “Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu; jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu.”

Di sini melalui pengalaman jasmani, Yesus ingin memberikan suatu ajaran rohani yang penting kepada kita. Untuk memahami ajaran Rohani ini saya ingin memanggil salah seorang misdinar untuk tampil ke depan.

Permainan: tutup mata salah seorang misdinar.

Bukan karena kegelapan yang mengelilingi dia, tetapi dia sendiri yang mengalami kegelapan tersebut. Cahaya masih bersinar di sekitarnya tetapi dia tidak dapat melihatnya, karena matanya tidak diperbolehkan untuk berfungsi. Begitu pula secara rohani, cahaya ada di sekeliling kita. Cahaya Tuhan bersinar atas kita. Tapi jika kita tidak melihatnya, alasannya bukan karena tidak ada cahaya. Alasannya karena ada yang kurang beres dengan mata rohani kita.

”Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu. Jika matamu jahat gelaplah seluruh tubuhmu”. Apa artinya ayat ini bagi kita? Terjemahan harafiah dari bahasa Yunani adalah: Jika matamu tunggal.....

Kebalikan dari pandangan tunggal adalah pandangan ganda atau pandangan kabur. Pandangan kabur tersebut dikarenakan mata yang tidak terfokus tajam. Jika anda dapat melihat dengan tajam, maka mata anda sehat. Jika mata anda tidak dapat melihat sesuatu dengan jelas dan tajam, maka mata tersebut kabur. Penglihatan anda tidak lagi tajam. Mereka yang memakai kacamata, dapat membuktikannya dengan mudah. Lepaskan kacamata anda dan penglihatan anda tidak lagi tunggal. Lensa mata membantu penglihatan anda menjadi tunggal, sehingga menjadi tajam dan terfokus. Kalau anda lepaskan kacamata, langsung penglihatan anda tidak tunggal lagi. Garis pandang menjadi kabur, dan ada juga yang tidak dapat melihat apa-apa sama sekali. Segalanya kelihatan kabur. Jadi Yesus bukan berbicara tentang mata yang 'baik' dalam pengertian 'sehat' secara umum - tetapi apa yang penting bagi mata adalah penglihatan yang tajam, atau tunggal.

Jadi jika ‘matamu baik’, artinya jika matamu tajam, terarah, terfokus kepada harta surgawi, maka ‘teranglah seluruh tubuhmu’, artinya hidup saudara akan baik. Tetapi ‘matamu jahat’, artinya matamu kabur...tidak terfokus dan terarah karena ada banyak hal yang anda lihat, maka ‘gelaplah seluruh tubuhmu’, artinya hidup kita akan jahat.

Dalam bacaan pertama tadi dikisahkan bahwa mata Simson yang dibutakan membuat dia kehilangan kekuatan sehingga tidak mampu berperan besar bagi dirinya. Ia ditawan orang Filistin, dijadikan kuli pada penggilangan gandum dan dijadikan obyek tertawaan orang.

Ef 1:18 ”Allah menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: betapa kayanya kemuliaan bagian yang ditentukan-Nya bagi orang-orang kudus”. Ayat ini menganjurkan agar mata hati kita menjadi terang, agar melihat hal-hal yang baik.

Allah menghendaki kita agar menjaga mata kita agar jangan sampai kita jatuh karena mata kita yang tidak bersih / rusak. Simson dicungkil matanya, dan karenanya ia tidak dapat melihat, dan karena ia tidak lagi dapat melihat, ia tidak dapat melawan orang Filistin. Iblis menggunakan cara yang sama pada anak-anak TUHAN, dengan berusaha membutakan mata rohani kita, agar kita tidak lagi dapat melihat mana yang benar, dan akhirnya kita tidak dapat menentukan arah kita, dan berakhir dengan masuk ke dalam maut yang kekal. Dengan membutakan mata, seseorang akan dengan mudah dikalahan, diikat, Oleh sebab itu seringkali seorang Kristen akan menjadi terikat dengan dosa atau suatu penyakit, setelah mata rohaninya dibutakan.

Setelah ditawan, Simson dijadikan kuli penggiling gandum, menjadi budak. Setelah mata rohani seorang Kristen dibutakan, dan jiwanya ditawan, maka otomatis ia akan dijadikan budak iblis, dan terus menerus akan dipaksa untuk melakukan dosa atau terikat akan suatu sakit penyakit, sama seperti Simson dipaksa menggiling gandum.

Yang perlu diingat adalah, jika kita sudah terlanjur menjadi buta rohani selama ini, segeralah berbalik pada TUHAN, seperti Simson yang memanjatkan doa terakhirnya, sehingga Allah memberinya kesempatan. Allah pasti mengampuni, hanya jika kita menyadari, dan mau bertobat. Saat ini kita masih mempunyai kesempatan, mari, jangan sia-siakan kesempatan ini, jangan merasa putus asa, masih ada kesempatan bagi kita yang berharap. Amen.

Pastor Tony Blikon, SS.CC

Senin, Juli 14, 2008

Doa: Tangga ke Surga

oleh: Romo Francis J. Peffley

“Maka bermimpilah ia, di bumi ada didirikan sebuah tangga yang ujungnya sampai di langit, dan tampaklah malaikat-malaikat Allah turun naik di tangga itu.” Kej 28:12-13

Definisi Doa:

Mengangkat hati serta pikiran kita kepada Tuhan. Doa ialah berbicara dengan Tuhan.
"Doa adalah kunci Surga." - St. Agustinus
“Doa adalah gerbang mulia, melaluinya kita masuk ke dalam hati Tuhan.” - Ven. Louis dari Granada
“Doa adalah persatuan dengan Tuhan.” - St. Yohanes Vianney

Empat Tujuan Utama Doa:
Yesus Berdoa
1. ADORASI: penyembahan yang layak bagi Tuhan karena Ia yang mencipta, menyelamatkan serta menguduskan kita.
2. SYUKUR: berterima kasih kepada Tuhan atas anugerahnya kepada kita, baik rohani maupun jasmani. Jadi, dalam doa kita bersyukur kepada Tuhan atas hidup kita, iman kita, keluarga kita, dll.

3. TOBAT: untuk memperoleh pengampunan atas dosa-dosa kita dan penghapusan/pengurangan hukuman dosa. Dalam doa kita ingat bahwa kita adalah orang berdosa, kita menyesal atas dosa-dosa kita dan mohon ampun, kita mohon penitensi bagi dosa-dosa kita melalui doa. St. Ambrosius mengatakan: “Jika doa dilambungkan, dosa dihapuskan.”

4. PERMOHONAN: dalam doa kita boleh memohon kepada Tuhan apa yang kita butuhkan, baik bagi jiwa maupun badan kita, bagi jasmani maupun rohani, bagi diri kita sendiri maupun bagi orang lain.


Tujuh Kualitas Utama Doa:

1. DEVOSI: menyatukan hati dalam doa. “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.” (Mat 15:8)

2. KESUNGGUHAN HATI: hasrat yang kuat untuk melayani serta mencintai Tuhan melalui doa. “Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah.” (Luk 22:43,44)

3. KETEKUNAN: Kita perlu bertekun dalam doa dan tidak cepat menyerah. Kita perlu terus-menerus berdoa setiap hari. Kristus mengatakan: “Jika seorang di antara kamu pada tengah malam pergi ke rumah seorang sahabatnya dan berkata kepadanya: Saudara, pinjamkanlah kepadaku tiga roti … Aku berkata kepadamu: Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya.” (Luk 11:5-10 / lihat juga Luk 18:1-8, Mat 24:13).

“Si pendusta tahu bahwa jika suatu jiwa bertekun dalam doa, maka jiwa itu bukan miliknya lagi.” - St. Theresia dari Avila

“Melalui doa yang dilambungkan dengan kerendahan hati dan iman, jiwa memperoleh, dengan waktu dan ketekunan, setiap keutamaan.” - St. Katarina dari Siena

Kita wajib berdoa sekurang-kurangnya 15 menit setiap hari, jika tidak hubungan kita dengan Tuhan tidak akan berkembang. Karena Tuhan adalah Pribadi yang paling penting dalam hidup kita, kita wajib berbicara kepada-Nya setiap hari. Setiap harinya kita menghabiskan lebih banyak waktu sekedar untuk makan, bersantai dan menikmati hiburan. Jiwa kita jauh lebih penting daripada tubuh kita. Dan Tuhan pastilah jauh lebih penting daripada siapa pun atau apa pun juga dalam hidup kita, jadi Ia layak mendapatkan prioritas utama. Mengenai berapa banyak kita harus berdoa, Kitab Suci mengatakan: - selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu (Luk 18:1), - tetaplah berdoa (1Tes 5:17), - berdoalah setiap waktu (Ef 6:18 dan Kis 6:4).

4. KERENDAHAN HATI: “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati." (Yak 4:6, lihat juga Mat 6:1-6, Lukas 18:9-14).

5. KONSENTRASI: Bagaimana mungkin kita mengharapkan Tuhan mendengarkan doa kita, jika kita sendiri tidak memusatkan perhatian kita dalam doa? (Lihat Mat 6:7,8). Beberapa distraksi yang tidak disengaja dalam doa memang tak terelakkan, tetapi kita harus berusaha untuk menguranginya. St. Edmund mengatakan: “Lebih baik mengucapkan satu kali Bapa Kami dengan kesungguhan serta ketulusan hati daripada seribu kali tanpa kesungguhan dan penuh dengan distraksi.”

6. IMAN: “Tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. (Ibr 11:6) “Sebab tidak dikecewakanlah mereka yang percaya padaMu” (Dan 3:40) “Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin." (Mat 19:26)

7. PRIORITAS: Ketika kita berdoa kita harus menempatkan prioritas dengan benar, yaitu kehendak Tuhan lebih utama dari kehendak kita. Yesus berdoa: "Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi." (Luk 22:42)

Apakah Tuhan selalu menjawab doa-doa kita? Ya. Ada tiga bentuk jawaban doa - ya, tidak, dan tunggu. Tidak ada doa yang tidak dijawab dan tidak ada doa yang tidak didengar. St. Thomas mengajarkan bahwa Tuhan tidak mengabulkan apa yang kita minta dalam doa jika permintaan kita itu tidak baik bagi keselamatan kita. Kita harus bertanya apa yang sesuai dengan kehendak Tuhan bagi kita. Kristus mengajarkan:

“…Janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Mat 6:31-33) “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?” (Mat 16:26)

Kita harus percaya pada kebijaksanaan Tuhan, dan bukan pada kebodohan kita sendiri. St. Agustinus mengatakan: “Kita harus yakin bahwa apa yang tidak dikabulkan Tuhan dalam doa kita, Ia melakukannya demi keselamatan kita. Jadi kita perlu mengerti bahwa meskipun Tuhan tidak memberikan apa yang kita minta, Ia memberikan apa yang baik bagi kita. Ketika kamu sakit, kamu mungkin meminta sesuatu yang tidak baik bagimu, tetapi dokter mengetahuinya. Misalkan kamu meminta air dingin: jika itu baik bagimu, dokter akan segera memberikannya kepadamu; jika tidak, ia akan menolak, tetapi itu tidak berarti bahwa ia tidak mendengarmu. Ia menolak keinginanmu karena ia mendengarkan keinginanmu untuk menjadi sehat. Jadi biarlah ketulusan hati, saudara-saudaraku, ada di dalam engkau: biarlah ketulusan hati ada di dalammu, maka engkau tidak perlu khawatir. Walaupun permohonanmu tidak dikabulkan, kamu didengarkan, meskipun kamu tidak mengetahuinya. Mereka yang tekun berdoa kepada Tuhan memohon kebutuhan-kebutuhan hidup, sekaligus didengarkan dan tidak didengarkan dengan belas kasih. Karena seorang dokter jauh lebih tahu daripada si sakit apa yang baik bagi kesehatannya.”


Doa di hadapan Sakramen Maha Kudus:

Salah satu tempat terbaik untuk berdoa adalah di dalam Gereja di mana Sakramen Maha Kudus ditempatkan dalam tabernakel. Berdoa di hadapan Kristus Sendiri membantu kita mengobarkan api cinta kita kepada Tuhan. (lihat Mat 26:40-41)


Manfaat Doa:

Meningkatkan persatuan dengan Tuhan, memperoleh rahmat, iman, cinta serta menolong kita melawan godaan dan mentaati perintah-perintah Tuhan. “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan.” (Mat 26:41). Doa bertentangan dengan dosa. Sungguh tidaklah mungkin untuk tetap tinggal dalam dosa berat sambil bertekun dalam doa. Kamu harus melepaskan salah satunya, entah kamu bertekun dalam doa atau tetap tinggal dalam dosa. Kamu tidak dapat tinggal dalam keduanya sekaligus.


Kuasa Doa seperti dinyatakan dalam Kitab Suci:

“Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” (Yak 5:16-18, lihat juga 2 Raj 20:1-6, Yosua 10:12-14, Dan 6). Elia adalah manusia biasa sama seperti kita, dan ia telah bersungguh-sungguh berdoa supaya hujan jangan turun, dan hujanpun tidak turun di bumi selama tiga tahun dan enam bulan. Lalu ia berdoa pula dan langit menurunkan hujan dan bumipun mengeluarkan buahnya.


Kuasa Doa seperti dinyatakan Para Kudus:


“Tuhan menguasai dunia, tetapi doa menguasai Tuhan Sendiri!”


“Aku tahu yang lebih kuat daripada Tuhan: orang yang berdoa. Ia membuat Tuhan mengatakan `Ya', ketika Ia telah mengatakan `Tidak!'”

“Ia yang berdoa, diselamatkan; ia yang tidak berdoa, celaka!”

“Sama seperti tubuh tidak dapat hidup tanpa makanan, demikian juga jiwa kita tidak dapat hidup secara rohani tanpa doa.”

“Rosario adalah doa yang paling luhur sesudah Kurban Kudus Misa.”


sumber : "Prayer: The Stairway to Heaven" by Father Peffley; Father Peffley's Web Site; www.transporter.com/fatherpeffley
Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Fr. Francis J. Peffley.”

Sabtu, Juni 28, 2008

Tuaian memang banyak tetapi pekerja sedikit. Mengapa?

A_11th Sunday OT_St. Odilia Parish
By Tonny Blikon, SS.CC

Dalam bacaan Injil tadi, kita mendengar suatu keprihatinan Yesus yang mendalam: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirim pekerja-pekerja untuk tuaian itu”

Pertanyaan yang muncul adalah: mengapa pekerja sedikit? Atau lebih spesifik lagi, mengapa dalam dunia sekarang ini, banyak orang muda yang tidak tertarik menjadi imam, bruder, atau suster?

Ada 3 alasan yang bisa saya kemukan di sini.

Alasan pertama, karena kita tidak melakukan apa yang diminta oleh Yesus: berdoa mohon panggilan. Dalam Injil tadi Yesus katakan: “mintalah kepada tuan yang empunyai tuaian, supaya Ia mengirim pekerja-pekerja untuk tuaian itu”.

Saya mau tanya: berapa di antara kita yang berdoa secara teratur minta supaya para kaum muda kita berani memilih hidup membiara - menjadi suster, pastor, atau bruder?

Kapan terkahir kalinya anda berdoa mohon panggilan hidup membiara?
Kira-kira apa bunyinya?

Dalam bacaan Injil tadi kita dengar: “Ketika Yesus melihat orang banyak, tergeraklah hati-Nya oleh belaskasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala”. Yesus minta agar kita pun turut dalam keprihatinannya. Yesus minta kita berdoa kepada Bapa yang empunyai panenan untuk mengirim lebih banyak pekerja. Kita bisa mendukung panggilan hidup membiara melalui doa-doa kita dengan intensi mohon panggilan hidup membiara. Keprihatinan kita pun dapat ditunjukan dengan cara mendukung dana pendidikan dan karya para imam, biarawan dan biarawati.

St. Theresia Avila diangkat oleh gereja untuk menjadi pelindung para misionaris bukan karena dia telah berkeliling dunia mewartakan Yesus tetapi sepanjang hidupnya ia telah berdoa bagi para misionaris di seluruh dunia dan mohon panggilan hidup membiara bagi kaum muda.

Doa kita pun hendaknya jujur dan tulus. Artinya harus didasari atas motivasi yang luhur. Kalau ada yang berdoa seperti ini: “ibu-ibu marilah kita berdoa untuk Romo Tony yang sekarang ini lagi dekat dengan seorang mudika yang namanya Susi biar Tuhan menyadarkan dia, dst…” Bagi saya itu bukan doa tapi gossip. Orang itu sangat pandai membungkus niat busuknya dalam hal-hal yang rohani. Doa semacam itu tidak didasari atas motivasi yang luhur. Kalau memang anda punya keprihatinan yang tulus, bawalah itu di dalam doa-doa pribadimu.

Bapa ibu saudara dan saudariku.
Sekali lagi doa kita hendaknya jujur dan tulus dan didasari atas motivasi yang luhur. Saya berterimakasih kepada begitu banyak orang yang telah mendoakan saya. Pertama kepada ibu saya yang rela menjadi ‘korban’ bagi perjalanan awal panggilan saya.

Juga kepada papa yang rela menyerahkan putra sulungnya untuk bekerja di kebun anggur Tuhan. Saya teringat pesan papa ketika saya ditahbiskan: re lejo re go lok limaga. Pana ma mai glekat Alapsa. Pana suduk en, mo taku nikur si. Pana mulur-mulur, mo taku tue si. (Hari ini saya melepaspergikan engkau untuk mengabdi Tuhan. Maju terus, jangan menoleh. Jejaki jalan lurus. Maju terus, pantang mundur). Terima kasih saya juga kepada oma saya yang sejak saya masuk seminari menengah sampai detik ini, lilin untuk saya tidak pernah padam. Dan masih banyak orang lain yang dengan tulus dan setia mendoakan saya.

Ketika menerima tahbisan imam di Bandung, saya mendapat sebuah kartu ucapan dari Legio Mariae Yunior (anak-anak SMP dan SMU). Dan di dalam kartu itu mereka menulis: Kami tidak pernah mengenal romo ketika masih sebagai frater, tetapi sejak ada berita bahwa romo akan ditahbiskan, kami tak henti-hentinya telah berdoa untuk romo. Inilah doa-doa kami: 1500x doa Bapa Kami, 2000x doa Salam Maria dan 500x doa Kemuliaan. Hanya ini yang bisa kami berikan.

Saya tersentuh ketika membaca tulisan itu. Suatu hadiah yang sangat berarti bagi saya. Beberapa minggu lalu, saya memberikan kepada Legio Mariae yunior sebuah doa untuk seorang imam. Saya telah meminta dengan rendah hati agar mereka doakannya selama bulan Juni dan mungkin akan seterusnya.

Alasan kedua, mengapa zaman ini banyak orang tidak tertarik menjadi suster, pastor atau bruder – sangat terkait erat dengan keluarga. Banyak keluarga zaman ini tidak menjadi tempat yang baik untuk menumbuhkan benih panggilan dalam diri anak. Keluarga adalah “seminari kecil” tempat anak mengalami dan merasakan panggilan Tuhan. Kehidupan doa yang teratur secara bersama-sama bisa menjadi sarana yang baik untuk menumbukan minat anak pada hal-hal yang rohani. Kalau tidak ada kebiasaan semacam ini maka, kelak jika anak diminta untuk masuk seminari maka ia pasti tidak mau karena dia tidak pernah mengalami Tuhan. Pendek kata, dia tidak tertarik pada hal-hal yang rohani.

Sebagai orang tua, apakah anda pernah mengutarakan kepada anakmu untuk menjadi suster, bruder atau pastor? Kalau pernah kapan terakhir kalinya anda katakan itu?

Ada sebuah keluarga yang patut kita contoi. Di dalam rumah ada ruang doa dan ada kebiasaan doa secara teratur. Bapa-ibu dan dua orang anak, masing-masing mempunyai lilin dengan warna berbeda. Bapa: putih. Ibu: kuning. Anak pertama: merah. Sedangkan yang bungsu, lilinnya berwarna pink.

Dalam keluarga itu ada aturan mainnya. Kalau sang ayah berdoa, maka dia harus menyalakan lilinnya....begitu pun ibu dan anak-anak. Pada akhir bulan, mereka mengevaluasi siapa yang paling banyak berdoa. Orang yang lilinnya paling pendek jelas adalah orang yang paling banyak berdoa.

Sang ibu pernah merasa malu ketika si bungsu mengatakan bahwa dia malas berdoa. Juga pada suatu kesempatan, sang ibu sampai meneteskan air mata ketika si bungsu berdoa bagi kesembuhan ibunya yang pada waktu itu lagi sakit. Doanya begitu polos dan sederhana. Dan ternyata Tuhan mendengarkan. Keesokan harinya ibu itu sembuh.

Alasan ketiga, mengapa zaman ini banyak orang tidak tertarik menjadi biarawan-biarawati adalah sesuatu yang menyangkut diri kita masing-masing secara pribadi. Apakah kita pernah membuka diri bagi kemungkinan panggilan itu bertumbuh di dalam dirimu?

Pada waktu misa perdana di rumah saya, ada kelompok anak TK yang memainkan sebuah fragmen mini tentang panggilan hidup. Banyak actor kehidupan yang ditampilkan. Ada petani, pedagang, pengusaha, guru dll. Pada suatu adegan….seorang guru menganjurkan anak didiknya untuk menjadi suster…… tetapi anak itu dengan ketus menjawab TIDAK MAU. Apa alasannya, tanya guru tadi. Dan anak itu menjawab: Suster artinya SUSAH TERUS. Serentak semua orang tertawa.

Ketika merenungkan bacaan Injil hari ini, saya teringat akan fragmen tersebut. Saya hanya berkata: pantas tidak banyak lagi orang yang tertarik menjadi biarawan-biarawati.

Siapa di antara putra-putri Altar ini yang ingin jadi imam, bruder atau suster?

Saya mengajak anda untuk merenungkan ini.

Tangan-Tangan Mengagumkan Seorang Imam

Kita membutuhkannya di awal kehidupan,
kita membutuhkannya lagi di akhir kehidupan.

Kita merasakan kehangatan jabatan kasihnya,
kita mencarinya lagi kala tertimpa kemalangan hidup.

Di altar, setiap hari kita memandangnya,
tangan-tangan seorang raja di atas tahtanya tak setara dengan tangan-tangan imam dalam keagungannya; martabat mereka melampaui segalanya.

Dan kala kita dicobai dan menyimpang ke jalan dosa dan cemar, tangan-tangan imamlah yang akan membebaskan kita - tak hanya sekali, melainkan lagi dan lagi.

Dan kala kita menentukan pasangan hidup,
tangan-tangan yang lain mempersiapkan pesta bagi kita, tetapi tangan-tangan yang akan memberkati serta mempersatukan kita adalah tangan-tangan mengagumkan seorang imam.

Bilamanakah seorang pendosa yang malang dapat melakukan lebih baik dari meminta tangan-tangan imam untuk membimbing dan memberkatinya?

Kala ajal menyongsong kiranya semangat dan kekuatan kita diteguhkan dengan memandang dan merasakan urapan di tubuh kita oleh tangan-tangan mengagumkan seorang imam! Anonim

Saudara dan saudariku...
Bacaan Injil hari ini merupakan suatu tantangan bagi kita. Saya hanya mengajak kita untuk menghadapi tantangan itu. Caranya: mulailah dengan kehidupan doa yang rutin di dalam keluarga….anak-anak diajak berdoa mohon panggilan hidup membiara. Inilah cara yang paling baik untuk membangkitkan minat anak terhadap panggilan hidup membiara. Semoga.