Selasa, September 23, 2008

Berita dari Mesir.. It's a miracle..


Seorang pria Muslim membunuh istrinya karena istrinya
membaca Injil dan kemudian menguburkannya bersama bayi dan
anak perempuannya yang berusia 8 tahun.

Anak-anak itu dikuburkan hidup-hidup!
Kemudian pria itu melaporkan ke polisi bahwa pamannya telah
membunuh kedua anak itu.. 15 hari kemudian, seorang anggota
keluarga lainnya meninggal dunia. Ketika mereka hendak
menguburkannya, mereka menemukan kedua anak perempuan itu
dibawah pasir
DALAM KEADAAN HIDUP!

Mesir digegerkan dengan peristiwa itu
dan sang pria segera ditangkap

Anak perempuan yang paling besar ditanyai,
bagaimana dia bisa tetaphidup dan dia berkata :
'Seorang pria yang memakai jubah putih berkilauan,
dengan kedua tangan yang terluka dan berdarah, datang setiap
hari untuk memberi kami makan. DIA membangunkan ibuku
sehingga bisa menyusui adikku'
Dia diwawancarai oleh televisi nasional Mesir, oleh wanita
Muslim yang menjadi penyiar berita terkenal di Mesir.
Penyiar wanita itu berkata di depan kamera TV,
'Orang berjubah putih itu pastilah Jesus, karena tidak
ada orang yang bisa melakukan hal ini selain DIA !'

Orang Muslim percaya bahwa Isa (Jesus) lah yang melakukan
keajaiban ini, dan luka berdarah di tanganNYA membuktikan
bahwa DIA benar-benar disalibkan, dan juga membuktikan
bahwa DIA benar-benar hidup!
Tetapi kejadian ini jelas bukan sebuah rekayasa,
bagaimana mungkin seorang anak perempuan berusia 8 tahun
bisa mengarang cerita seperti ini, dan tidak ada penjelasan logis
yang bisa menjelaskan bagaimana kedua anak itu bisa tetap hidup,
kejadian itu benar-benar sebuah mukjizat.
Para pemuka Muslim bingung bagaimana menjelaskan
fenomena ini kepada masyarakat, bahkan popularitas film The
Passion tidak membantu mereka menjelaskan kepada publik
bagaimana hal itu bisa terjadi!
Dengan posisi Mesir sebagai pusat media dan pendidikan
di Timur Tengah, berita ini segera tersebar ke seluruh dunia.

Kristus masih juga menjungkir balikkan dunia hingga saat ini!

Biarlah berita ini tersebar, dan bagilah berita keselamatan ini
kepada orang lain.

Karena Tuhan berkata, 'Aku akan memberkati orang
yang percaya kepada-KU.'(Jeremiah 17).


Diterjemahkan dari Milis tetangga yang berjudul asli :
'A miracle from Egypt '

Minggu, September 21, 2008


Aku Bukan Batu Pualam

Bukan tanpa rencana Bapa menciptakan aku.
dengan penuh kasih saya Ia membopong aku.

Dengan pelbagai peristiwa dipahatnya aku
Dalam kesunyian diukirnya aku
Dalam aneka derita dipeluknya aku
Dalam deraian air mata dibasuhnya aku
Di telapak tangan-Nya diukirnya aku.

Namun aku bukan batu pualam yang dingin dan kaku
Aku bukan lampu kristal yang menghiasi museum megah
atau rumah para elite dan bangsawan yang boleh dikagumi.
Namun "Jangan sentuh"

Aku hanya manusia biasa
Yah...aku adalah pengikut-Nya,
yang dibentuk menurut citra-Nya
yang dikasihi sebagai anak-Nya
yang menjadi alihwaris-Nya

Aku menyendiri tetapi aku tidak sendiri
Aku diam namun tidak kosong
aku mendengar suara Tuhan dalam lubuk hatiku
Hatiku berbicara dengan Dia
senantiasa dalam suka dan duka

Tuhan, Engkau tahu
banyak hal yang kuhadapi.
tak mungkin aku sanggup jika dengan kekuatanku sendiri.

Dalam diam dan keheningan batinku
aku menimbah kekuatan dari pada-Nya
Engkaulah Yesus enebusku
tuhan, Engkaulah Allah yang bangkit
"SANG PEMENANG"

Sabtu, September 20, 2008

Homily Minggu biasa ke-25_tahun A_2008




Minggu Biara 25_Thn A 2008_Tonny Blikon, SS.CC Paroki St. Odilia
Citra Raya – Tangerang


Yes 55: 6-9 Flp 1:20c-24.27a Mat 20:1-16a

Pengantar

Tema Bulan KS tahun ini adalah kemurahan hati Allah. Kita tahu bahwa Allah sangat murah hati kepada setiap orang. Tetapi kadang-kadang kemurahan hati Allah itu membuat kita tidak puas jika kita menyadari bahwa yang menjadi prioritas Allah itu adalah orang lain dan bukannya diri kita.

Allah itu Mahamurah. Setiap tindakan baik kita pasti akan mendapat pahala. Jika Allah nampak bermurah hati lebih kepada orang lain, itu bukanlah urusan kita untuk mempertanyakan mengapa Allah bersikap demikian, tetapi hendaknya kita belajar dari Allah untuk menunjukkan perhatian kepada orang-orang yang lemah dan tak berdaya. Kemuarahan hati Allah terhadap mereka hendaknya menjadi inspirasi bagi kita dan bukannya membuat kita iri hati.

Dalam perayaan ekaristi ini kita diajak untuk menghitung berkat Allah yang kita terima. Berkat-Nya selalu lebih banyak daripada yang kita harapkan.


Renungan:

Saudara dan saudariku yang terkasih!
Kemarin dalam perjalanan ke Oasis, saya mendengar radio L-Sinta bicara soal Hot Properti. Hal ini memberikan inspirasi bagi saya untuk untuk mengajak kita semua memahami perumpamaan Yesus dalam bacaan Injil tadi dalam sebuah kita berikut ini. Saya coba menempatkan perumpamaan ini dalam situasi modern.

Di salah satu cluster di wilayah Citra I ada 4 rumah yang mau dijual. Nilai masing-masing rumah itu berbeda. Rumah pertama bernilai 600 juta. Rumah ke-2 bernilai 500 juta. Rumah ke-3 bernilai 400 juta. Dan rumah ke-4 bernilai 300 juta.

Pemilik rumah pertama tadi saya sebut saya Pak Prapto. Pada suatu hari anaknya kepada Pak Prapto: ”Papa... kalau ada orang yang mau memberi rumah dengan harga 1M, apakah Papa mau menjual rumah ini” Papa itu menjawab: ”Tentu Papa akan menjualnya”.

Keesokan harinya, tiba-tiba ada yang bertelepon bahwa dia mau membeli rumah itu dengan harga 1M. Pak Prapto bingung tapi juga sangat bahagia. Transaksi segera terjadi. 1 M dibayar kontan. Dua hari kemudian, Pak Prapto tahu bahwa 3 rumah yang lain juga telah terjual kepada pembeli yang sama. Dia bertanya berapa harga belinya? Masing-masing orang menjawab: 1 M. Bagaimana perasaanmu kalau anda adalah orang yang memiliki rumah pertama tadi?

Pak Prapto menjadi marah kepada pembeli itu. Dia segera menelponnya dan mempersoalkan harga ketiga rumah yang lain: ”Kok rumah saya dibeli dengan harga yang sama dengan 3 rumah yang lain, yang nota bene lebih sederhana dari rumah saya?” Penelpon itu menjawab: ”Apakah saya telah menipu Bapa? Bukankah kita telah sepakat soal harnyanya 1 M? Atau irihati-kah kau karena aku murah hati?

Saudara dan saudariku
Untuk memahami perumpamaan Yesus tadi, kita harus ingat bahwa para pekerja yang masuk kerja jam 5 sore bukanlah orang malas yang mau menghabis-habiskan waktu. Mereka sebenarnya adalah para pekerja yang sangat membutuhkan pekerjaan. Kenyataannya bahwa mereka menunggu dengan pernuh harapan sampai jam 5 sore. Itu mau menunjukkan bahwa mereka memang sangat membutuhkan pekerjaan.

Pada zaman Yesus, orang bekerja dengan upah harian. Gaji langsung dibayar pada sore. Jika seseorang tidak bekerja hari ini berarti keluarganya tidak punya apa-apa untuk bisa dimakan pada keesokan harinya. Orang yang mendapat kerja pada pagi hari tentu merasa bahagia. Bukan hanya dia tetapi seluruh keluarganya.

Saudara dan saudariku
Mengapa Yesus menceritrakan perumpamaan ini? Apa yang ingin ia sampaikan? Di dalam kenyataan hidup saat itu, siapakah yang dimaksudkan dengan para pekerja yang bekerja dari pagi dan siapakah yang dimaksudkan dengan para pekerja yang masuk terlambat?

Para pekerja yang datang terlambat adalah para pendosa. Mereka yang mendengarkan Yesus dan bertobat. Sedangkan para pekerja yang bekerja mulai dari pagi adalah orang-orang Farisi. Mereka marah karena para pendosa bertobat sehingga masuk Kerajaan Allah dan mendapat ganjaran yang sama sebagaimana mereka pikirkan mereka akan mendapatkannya.

Sikap mereka itu bisa dibayangkan seperti seseorang yang mengkritik Yesus karena Ia mengampuni seorang pendosa di atas kayu salib, dengan berkata: ”Hari ini juga engkau akan berada bersama dengan Aku di dalam firdaus” (Luk 23:43)

Seandainya para pekerja yang masuk lebih awal tidak tahu berapa banyak yang dibayar kepada para pekerja yang masuk kemudian, mungkin mereka akan kembali ke rumah dengan penuh syukur dan sukacita. Tetapi kenyataannya mereka kembali dengan penuh amarah dan irihati.

Saudara dan saudariku
Pertanyaan-pertanyaan yang muncul adalah: mengapa para pekerja yang masuk lebih awal tadi tidak suka atas kebaikan atau nasih baik yang dialami oleh para pekerja yang masuk paling terakhir? Atau kenapa Pak Prapto dalam kisah modern tadi menjadi marah karena nasib baik yang dialami oleh ke-3 tetangganya yang lain itu? Atau lebih umum lagi, mengapa orang jaman ini merasa bahagia atau sedih tergantung pada penilaian mereka apakah hidup mereka lebih baik atau tidak daripada orang-orang yang ada di sekitar mereka?

Yesus menjawab pertanyaan-pertanyaan itu sama seperti tukang kebun anggur memberikan jawaban kepada para pekerja yang masuk lebih pagi: ”Saudara, apakah aku telah membohongi engkau? Atau irihati-kah kau karena Aku murah hati?

Dalam hidup ini, seringkali kita tidak suka dengan nasib baik yang dialami oleh orang lain karena kita irihati kepada mereka. Yang membuat kita irihati adalah karena kita berpikir bahwa mereka lebih baik daripada kita, bahwa mereka lebih beruntung daripada kita. Mereka lebih berbakat, lebih kaya, lebih cakep, lebih cantik, dll. Singkatnya semua yang ’lebih’ itu ada pada mereka.

Itu pikiran kita. Sayang sekali! Jika kita berpikir demikian maka kita telah melakukan suatu kesalahan: menilai orang lain berdasarkan standar yang sangat duniawi. Bukan standar Allah. Kalau kita menilai mereka berdasarkan ukuran yang diberikan oleh Allah maka kita akan menyadari bahwa kita sama-sama bernasib baik.

Siapa tahu bahwa mungkin dalam rencana Allah, talentamu yang hanya sedikit menurut ukuran duniawi itu justru sangat berharga. St. Paulus berbicara tentang hal ini dalam suratnya kepada Jemaat di Korintus: ”Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti” (1Kor 1:27-28).

Inilah cara kerja Allah. Berbicara atas nama Allah, nabi Yesaya dalam bacaan I tadi berkata: ”Rancangan-Ku bukanlah rancanganmu dan jalanmu bukanlah jalan-Ku. Seperti tingginya langit dari bumi, demikian pun jalan-Ku lebih luhur dari jalanmu dan pikiran-Ku lebih mulia dari pikiranmu”.

Jumad kemarin saya beri pengajaran pada kharismatik. Temanya: Firman-Mu adalah pelita bagi langkahku dan terang bagi jalanku” (Mzm 199:105). Saya berikan beberapa ayat penuntun berkaitan dengan masalah-masalah yang seringkali kita alami; salah satunya adalah soal irihati. Jika anda merasa iri hati, renungkan teks-teks berikut ini:

• 1Kor 3:3 “Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi.

• 1Kor 13:4 “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong”

• Amsal 14: 30 “Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang”

• 1Pet 2:1 “Karena itu buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah”.

Saudara dan saudariku
Bacaan injil hari ini mengajak kita untuk berhenti membandingkan diri kita dengan orang lain. Injil mengundang kita untuk menerima diri kita sebagaimana adanya kita. Ia mengajak kita untuk mengikuti nasihat rasul Paulus kepada umat di Galatia: ”Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain” (Gal 6:4).

Saudara dan saudariku
Hal yang terpenting dalam hidup ini bukanlah apa yang orang lain pikirkan tentang dirimu, tetapi apa yang Allah pikirkan tentang anda. Bukan soal bagaimana orang lain telah menilai saya tetapi tetapi bagaimana Allah menilai hidup saya.

Saudara dan saudariku
Iri hati membuat kita buta terhadap kemurahan hati Allah. Sama seperti orang Farisi, merasa dirinya lebih baik dari orang lain, Akhirnya malah tidak pernah mendapatkan mujizat apa-apa bahkan tidak mendapatkan keselamatan karena 'mengurusi' dan menghakimi orang lain terus-terusanan. Biasanya orang yang tangannya sibuk, mulutnya gak bekerja, tapi kalau tangannya diam alias nganggur justru mulutnya sibuk. sibuk ngerasani orang dan sirik sama orang lain.

Penegasan:

Amsal 14: 30 “Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang”

Kalau kita memelihara iri hati terus menerus, maka tanpa sadar kita yang tadinya menerima rahmat Allah lebih dulu dari orang lain, pelan tapi pasti justru iman kita pelan-pelan mundur teratur.

Kalau kita menuntut bahwa Allah harus adil seperti apa yang kita pikirkan, maka saya kira kita harus malu. Rom 5:8 ”Allah telah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa”. Apakah Allah bersikap adil dalam hal ini? Keadilan menurut pandangan kita? Itu karena kemurahan hati Allah.

Saudara dan saudariku
Supaya belajar murah hati kita harus menyingkirkan jauh-jauh sikap iri hati dan mau berrekonsiliasi paling tidak dengan diri sendiri. Salah satu kemurahan hati Allah bisa dialami dalam sakramen rekonsiliasi. Kita bisa datang kapan saja. Tapi sayang tidak semua orang memanfaatkannya? Berapa sih dari antara kita yang mau mengalami kemurahan hati Allah yang ingin ia tawarkan itu?

Kita harus mengalami kemurahan hati Allah, baru kita bisa bermurah hati. Maka datanglah ke kamar pengakuan untuk mengalami kemurahan hati Allah. Kalau kita merasa ’tidak’ berdosa atau tidak perlu perlu mengakui dosa, saat seperti itulah justru kita mulai menyombong kan diri.

Lantas mana bisa kita bermurah hati? Ini tantangan bagi kita semua terutama para kelompok 'suci' seperti karismatik, Legio Maria, kelompok doa Padre Pio. Kalau tidak maka kita akan menjadi sama seperti orang-orang Farisi yang iri hati. Kita tidak jauh seperti para pekerja yang masuk lebih pagi, tetapi suka iri hati.

"Bila ada yang tersinggung dengan homili ini, berarti rahmat Tuhan sudah menaungi anda, silahkan bertemu dengan saya dalam kamar pengakuan dosa".

Marilah kita hening sejenak dan berdoa:
Tuhan ajariah saya untuk mengatasi sikap irihati dan dengki terhadap sesama karena nasib baik yang mereka alami.

Singkirkanlah dari dalam hati saya, segala kepahitan yang merasuki hati dan pikiran saya, yang selalu membuat saya irihati atas berkat yang Engkau berikan kepada orang lain; mereka yang seharusnya saya anggap sebagai saudara dan saudariku di dalam Kristus

Bebaskanlah saya dari kebutaan moral akibat irihati yang membuat saya selalu bertanya tentang kebijaksaan dan kebebasan-Mu dalam membagi-bagikan rahmat dan berkat.

Sadarkanlah saya selalu bahwa dalam hal ini Engkaulah yang lebih mengetahui apa yang terbaik. Ajarilah saya untuk mensyukuri segala anugerah dan berkatmu yang telah Engkau curahkan kepada saya.

Ajarilah saya untuk menghitung segala berkat-Mu yang telah saya terima....yang masih saja Kau berikan hari demi hari.

Ajarilah saya untuk menggunakan semua berkat-Mu itu dengan segenap kemampuanku, dengan bijaksana dan kreatif.

Tuhan...Engkaulah sumber segala rahmat. Engkaulah sumber segala berkat. Engkaulah sumber kebahagiaanku. Amen.