Rabu, November 12, 2008

Judge Me By The Footprints I Leave Behind


A story is told about a soldier who was finally coming home after having fought in Vietnam. He called his parents from San Francisco. "Mom and Dad, I'm coming home, but I've got a favor to ask. I have a friend I'd like to bring with me." "Sure," they replied, "we'd love to meet him." "There's something you should know the son continued, "he was hurt pretty badly in the fighting. He stepped on a land mined and lost an arm and a leg. He has nowhere else to go, and I want him to come live with us." "I'm sorry to hear that, son. Maybe we can help him find somewhere to live." "No, Mom and Dad, I want him to live with us." "Son," said the father, "you don't know what you're asking. Someone with such a handicap would be a terrible burden on us. We have our own lives to live, and we can't let something like this interfere with our lives. I think you should just come home and forget about this guy. He'll find a way to live on his own." At that point, the son hung up the phone. The parents heard nothing more from him. A few days later, however, they received a call from the San Francisco police. Their son had died after falling from a building, they were told. The police believed it was suicide. The grief-stricken parents flew to San Francisco and were taken to the city morgue to identify the body of their son. They recognized him, but to their horror they also discovered something they didn't know, their son had only one arm and one leg. The parents in this story are like many of us. We find it easy to love those who are good-looking or fun to have around, but we don't like people who inconvenience us or make us feel uncomfortable. We would rather stay away from people who aren't as healthy, beautiful, or smart as we are. Thankfully, there's someone who won't treat us that way. Someone who loves us with an unconditional love that welcomes us into the forever family, regardless of how messed up we are. Tonight, before you tuck yourself in for the night, say a little prayer that God will give you the strength you need to accept people as they are, and to help us all be more understanding of those who are different from us!!! There's a miracle called -Friendship- that dwells in the heart. You don't know how it happens or when it gets started. But you know the special lift It always brings and you realize that Friendship Is God's most precious gift! Friends are a very rare jewel, indeed. They make you smile and encourage you to succeed. They lend an ear, they share a word of praise, and they always want to open their hearts to us.

Selasa, November 11, 2008

Bambu dan Pakis


Suatu hari aku memutuskan untuk berhenti ... berhenti dari pekerjaanku, berhenti dari hubunganku dengan sesama dan berhenti dari spiritualitasku. Aku pergi ke hutan untuk bicara dengan Tuhan untuk yang terakhir kalinya.
"Tuhan", kataku. "berikan aku satu alasan untuk tidak berhenti?"
Dia memberi jawaban yang mengejutkanku.
"Lihat ke sekelilingmu", kataNya. "Apakah engkau memperhatikan tanaman pakis dan bambu yang ada dihutan ini?"

"Ya", jawabku.

Lalu Tuhan berkata, "Ketika pertama kali Aku menanam mereka, Aku menanam dan merawat benih-benih mereka dengan seksama. Aku beri mereka cahaya. Aku beri mereka air. Pakis-pakis itu tumbuh dengan sangat cepat. Warna hijaunya yang menawan menutupi tanah. Namun, tidak ad
a yang terjadi dari benih bambu. Tapi, Aku tidak berhenti merawatnya.
Dalam tahun kedua, pakis-pakis itu tumbuh lebih cepat dan lebih banyak lagi. Namun, tetap tidak ada yang terjadi dari benih bambu. Tetapi Aku tidak menyerah terhadapnya. "
"Dalam tahun ketiga tetap tidak ada yang tumbuh dari
benih bambu itu, tapi Aku tetap tidak menyerah. Begitu juga dengan tahun ke empat. "
"Lalu pada tahun ke lima, sebuah tunas yang kecil m
uncul dari dalam tanah. Bandingkan dengan pakis, itu kelihatan begitu kecil dan sepertinya tidak berarti.
Namun enam bulan kemudian, bambu ini tumbuh dengan mencapai ketinggian lebih dari 100 kaki. Dia membutuhkan waktu lima tahun untuk menumbuhkan akar-akarnya. Akar-akar itu membuat dia kuat dan memberikan apa yang dia butuhkan untuk bertahan. Aku tidak akan memberikan ciptaanku tantangan yang tidak bisa mereka tangani. "

"Tahukan engkau anakKu, dari semua waktu pergumulanmu, sebenarnya engkau sedang menumbuhkan akar-akarmu? Aku tidak menyerah terhadap bambu itu. Aku juga tidak akan pernah menyerah terhadapmu. "
Tuhan berkata "Jangan bandingkan dirimu dengan orang lain. Bambu-bambu itu memiliki tujuan yang berbeda dibandingkan dengan pakis. Tapi keduanya tetap membuat hutan ini menjadi lebih indah.”
"Saat mu akan tiba", Tuhan mengatakan itu kepadaku. "Engkau akan tumbuh sangat tinggi"
"Seberapa tinggi aku harus bertumbuh?" tanyaku.

"Sampai seberapa tinggi bambu-bambu itu dapat tumbuh?" Tuhan balik bertanya.
"Setinggi yang mereka mampu?" Aku bertanya
"Ya." jawabNya, "Muliakan Aku dengan pertumbuhan mu, setinggi yang engkau dapat capai."
Lalu aku pergi meninggalkan hutan itu, menyadari bahwa Allah tidak akan pernah menyerah terhadap ku. Dan Dia juga tidak akan pernah menyerah terhadap Anda.
Jangan pernah menyesali hidup yang saat ini Anda jalani sekalipun itu hanya untuk satu hari.
Hari-hari yang baik memberikan kebahagiaan; hari-hari yang kurang baik memberikan pengalaman; kedua-duanya memberi arti bagi kehidupan ini.

Selasa, Oktober 07, 2008

BERBUAH-BUAH BAGI TUHAN

Yoh 15:16, "Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu."
Kalau Tuhan memilih kita bukan asal pilih, tetapi dengan satu tujuan yaitu supaya kita pergi dan menghasilkan buah. Lebih daripada itu, ada tujuan lain lagi: apa yang kita minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu."

Ada 5 macam buah, yaitu:
a. Buah roh (Gal 5:22,23): berbicara tentang perbaikan dalam sikap dan karakter. Ada keseimbangan antara karunia dan karakter.

b. Buah pekerjaan yang baik (Kol 1:10): menjadi pendamai antara manusia dengan Allah
melalui Kristus dan berusaha hidup damai dengan sesama.

c. Buah untuk hidup yang kekal (Yoh 4:36): memenangkan jiwa-jiwa bagi Tuhan.
d. Buah kebenaran (2 Kor 9:10): memiliki pikiran dan perasaan Kristus untuk mengasihi orang-orang yang memerlukan pertolongan, misalnya orang-orang miskin.

e. Buah pertobatan (Mat 3:8): perubahan pola hidup setelah bertobat, tidak melakukan perbuatan manusia lama.

Tuhan merindukan agar kita berbuah (Yoh 15:1-2), dan jika kita sudah berbuah akan semakin dibersihkan, supaya semakin banyak berbuah. Rahasia untuk berbuah banyak adalah kita harus tinggal di dalam Yesus dan Yesus di dalam kita. Artinya kita harus mengasihi Tuhan. Jika kita sudah berbuah banyak, maka kita akan menyenangkan hati Allah Bapa dan kita akan disebut murid-murid Yesus.

Jika tahun 2008 (tahun Yahudi 5768) disebut Samekh Het, yaitu tahun permulaan yang baru. Bagaimana kasih Tuhan dicurahkan ke dalam hati kita. Kita semakin mengasihi Tuhan dengan segenap hati, kekuatan, akal budi dan jiwa kita. Jika kita sudah mengasihi Tuhan dengan kasih mula-mula, maka kita akan dapat berbuah-buah banyak.

Kemudian setelah tanggal 29 September 2008 ini, tahun Yahudi akan mengalami pergantian menjadi Tahun Samekh Tet. Tet (angka "9") dalam bilangan Ibrani seperti gambaran "rahim". Artinya ini berarti seperti 9 bulan masa kehamilan dan disempurnakan dengan melahirkan. Sebab itu, tahun 2009 (tahun Yahudi 5769) merupakan tahun berbuah-buah, musim panen raya, mengalami pelipatgandaan. Apa yang kita minta kepada Bapa, maka tahun 2009 ini kita akan menuai. Kita akan melahirkan ide-ide yang kreatif, mengalami perluasan dalam hal pekerjaan, pelayanan dan bisnis kita. Dan akhirnya kita akan mengalami pelipatgandaan: 2 jadi 4, 4 jadi 16 dan seterusnya.

Ciri-ciri orang yang berbuah: menyukai dan merenungkan firman Tuhan, mengucapkan dan memperkatakan kebenaran Firman Tuhan, menyaksikan tuntunan Tuhan dalam hidup kita.

Kunci untuk berbuah-buah adalah:


1. Seperti Maria kita harus duduk di kaki Tuhan Yesus (Luk 10:39 b), lebih sering masuk hadirat Tuhan, merenungkan firman Tuhan siang dan malam. Akan ada ide-ide kreatif untuk menjalani hidup dan masalah yang ada. Mari berdoa dengan sungguh-sungguh. Hadirat Tuhan itu bukan masalah tempat, tetapi bagaimana sikap hati kita saat menyembah Tuhan.



2. Maria menyentuh dan mengerti kebutuhan Yesus pada saat itu (Yoh 12:3,7). Sebab itu, kita harus peka dan tanggap dengan kehendak Tuhan pada zaman ini. Tuhan Yesus ingin datang untuk keduakalinya ke dunia ini. Apakah kita sudah siap? Dengan cara melipatgandakan Kerajaan Allah di manapun kita berada: sekolah, pekerjaan dan rumah tangga kita.



3. Saat kematian Lazarus, Maria tersungkur di depan kaki Yesus dan menangis (Yoh 11:32), Maria merendahkan diri dan menyembah Tuhan. Akibatnya Yesus menjadi menangis, masygul, terharu dan akhirnya membangkitkan Lazarus (Yoh 11:33-43). Hari-hari ini kita harus menyembah Tuhan dengan cara melakukan kehendak Tuhan, apa pun resikonya.

Karena Tuhan mengasihi kita, maka Tuhan akan mengkondisikan keadaan supaya kita lebih intim dengan Tuhan. Jika keadaan tidak enak, responi dengan semakin mencari Tuhan/intim dengan Tuhan.